KISAH NYATA:BAHAYANYA FAHAM SALAFI/WAHABI

Kisah Nyata:Bahayanya Faham Salafi/Wahabi,Kejamnya Wahabi,Busuknya Rayuan Wahabi,Bahayanya Doktrin Wahabi dan semacamnya sering saya dengar,namun sayangnya untuk menuliskan satu persatu rasanya agak susah.
karna kepengin banget memosting artikel yang mengisahkan kisah nyata bahayanya faham salafi/wahabi,saya mencoba mencari di internet dan alhamdulillah saya mendapati suatu kisah yang sangat menyentuh hati.
INILAH KISAH NYATA:BAHAYANYA FAHAM SALAFI/WAHABI dengan judul Kenapa Aku Meninggalkan Salafi

Perjalanan spiritualku dalam mengenal Islam menemui babak baru ketika memulai studi di Jogjakarta. Bertemu dengan senior satu kamar di asrama mahasiswa Sumatera Barat yang memiliki penampilan aneh. Berjenggot tebal dan celana di atas mata kaki. Namanya anak kampung yang baru sekali merantau, aku hanya bisa banyak mendengar apa yang seniorku itu sampaikan. Tiap malam aku dibombardir dengan istilah-istilah baru yang belum kuketahui sebelumnya tapi memiliki indikasi negatif dalam agama.
Berjalannya waktu dan semakin intensnya pembicaraan kami, akhirnya aku mengenal sebuah aliran baru “Salafi”. Sebuah ajaran yang diklaim sebagai ajaran yang paling benar dan paling teguh memegang Al Qur’an dan As Sunnah. Sementara gerakan atau ajaran lain dianggap bid’ah dan tidak sesuai dengan Islam “yang sebenarnya”.
Meski tanpa didampingi oleh sang senior, aku melakukan pencarian lebih lanjut tentang “Salafi”. Lewat pamflet-pamflet pengajian yang disebar di kampus, akupun mulai mengunjungi masjid-masjid tempat berlangsungnya kajian yang bertitel “mengikuti sunnah Nabi” ini. Aku terpukau dengan kapabilitas ustadz-ustadznya yang hafal ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist. Banyak hadist-hadist baru yang kudengar. Tampilan tawadhu’ para pendengar yang terdiri dari bapak-bapak dan pemuda-pemuda berjenggot-berjubah, serta wanita-wanita bercadar membuat kepincut untuk terus mengikuti pengajian-pengajian Salafi, karena sejak SMA aku sudah memilih memelihara jenggot sebagai sunnah Nabi, sampai-sampai aku berdebat keras dengan seorang guru berjilbab yang menyuruhku untuk memotong jenggot. Aku berpikir, inilah tempat aku menemukan teman-teman yang melaksanakan hadist yang dulu pernah kutemui bahwa memilihara jenggot merupakan bagian dari sunnah Nabi.
Meskipun masih menjadi orang “aneh” dengan penampilan modern (celana panjang dan kemeja), keinginanku untuk belajar mengalahkan rasa risih. Seringkali para jama’ah lain menatap diriku agak lama. Mungkin karena dirasa sebagai orang baru, gaya penampilanku yang tidak lazim dapat mereka maklumi. Minggu-minggu berlalu, aku semakin asyik dengan pengajian demi pengajian. Di Asrama, sang senior satu kamar semakin intens menceritakan kejelekan-kejelekan ajaran di luar Salafi.
Aku tak ingat lagi sejak kapan memotong celana hingga di atas matakaki. Semua celana panjangku kukirim ke tukang jahit untuk “dirapikan” agar sama seperti celana-celana yang dipakai oleh anggota pengajian. Jenggotku mulai memanjang dan celanaku tidak lagi celana lipatan. Mulailah beberapa peserta pengajian mendekatiku dan mengajakku ngobrol. Aku mulai merasa diterima sebagai bagian mereka. Aku merasa enjoy karena mulai mendapatkan teman-teman baru. Lambat laun hubunganku semakin intens dan mengenal lebih banyak lagi teman-teman Salafi. Sampai suatu kali perkenalan tentang kuliah, aku bilang kuliah di Filsafat UGM. Sontak saja raut teman bicaraku berubah. Awalnya aku tak mengerti, kenapa setiap memperkenalkan diri sebagai mahasiswa Filsafat mereka mencoba mengalihkan pembicaraan?
Akhirnya aku tahu sebab-musabab, kenapa raut wajah mereka berubah ketika kubilang kuliah di Filsafat. Ternyata memang Salafi “mengharamkan Filsafat”. Berkali-kali ketika membahas peran akal dalam memahami wahyu atau kajian-kajian mengenai firqoh-firqoh Islam, istilah filsafat dikatakan dengan ucapan sinis. Berbagai istilah dilekatkan kepada filsafat, “ilmu syetan”, “ilmu sesat”, “ilmu tak bermanfaat”.
Kegelisahan mulai menderaku. Apakah benar kuliah yang sedang kujalani saat ini adalah kuliah yang mempelajari ilmu yang dilarang dalam Islam? Suatu ketika kuberanikan diri bertanya empat mata kepada beberapa Ustadz. Jawaban dari Ustadz yang kudatangi SAMA. Mempelajari filsafat itu haram. Pertahananku jebol. Aku benar-benar binggung. Semester 3 aku mulai malas-malasan pergi ke kampus. Pagi hari dan siang hari aku hanya termanggu di asrama, berkata pada diri sendiri, “betapa bodohnya aku telah salah memilih jurusan”. Aku menghindar memilih jurusan hukum atas dasar asumsi “Islami”, hukum di Indonesia adalah hukum thagut (kafir, sesat). Dan pilihan jurusan filsafat kusandarkan kepada sebuah artikel dalam terjemahan Al Qur’an yang dikeluarkan oleh Departemen Agama. Tapi, di Jogja aku menemukan hal sebaliknya, “Filsafat Haram dalam Islam”.
Akibat jarang mengikuti perkuliahan, IP-ku jeblok. Padahal semester 1 dan 2 aku berhasil meraih IP di atas 3. Sementara, aktivitas pengajianku di Salafi semakin intens. Beberapa kajian yang kuikuti telah melewati batas kota Jogja.
Suatu ketika, aku berpikir tak mungkin lagi melanjutkan kuliah di filsafat. Kuberanikan diri bicara lewat telpon kepada Bapak untuk berhenti kuliah. Aku ingin masuk pondok pesantren, mempelajari ilmu agama yang lebih mulia dari ilmu-ilmu lain. Kusampaikan kepada Bapak dalil-dalil keharaman filsafat sebagaimana yang kudapatkan dari ustadz. Bapak marah besar kepadaku. Aku cuek, karena yakin apa yang sampaikan benar menurut “agama”. Aku bersitegang dengan Bapak. Beberapa hari setelah percekcokanku dengan Bapak, Ibu datang ke Jogja. Tak henti Ibu menangis. Memberitahukan bagaimana Bapak kecewa berat dengan “kegilaan-ku” meninggalkan kuliah di UGM. Ibu memintaku untuk mengurungkan niat berhenti kuliah. Jiwaku masih memberontak waktu itu.
Beberapa hari Ibu menginap di kamar. Tak henti tangisan beliau ketika memintaku untuk memikirkan kerja keras Bapak menguliahkanku dengan biaya yang besar di UGM. Akupun luluh. Tak sanggup rasanya melihat Ibu bercucuran airmata. Hati kecil berontak, bimbang antara memilih “agama” dan keinginan orang tua. Terlintas ucapan ustadz-ustadz Salafi bahwa hormat kepada manusia tidak perlu jika melanggar perintah Tuhan, hatta itu orangtua sendiri. Di sisi lain sanubariku berkata, bukankah agama melarang seorang anak durhaka kepada orang tua?
Aku menghadapi dilema ini sendirian. Seniorku satu kamar yang mengenalkanku dengan Salafi diam masa bodoh. Sibuk dengan kerja dan kuliahnya yang memang begitu padat. Menjelang kepulangan Ibu kembali ke kampung karena sudah tak bisa berlama-lama di Jogja demi kerja dan mengurusi adik-adikku yang masih kecil-kecil, beliau kembali memintaku untuk mengurungkan niat berhenti kuliah. Aku tak bisa melawan Ibu dab melepas kepergian beliau dengan tangisan. Kukuatkan tekad dan bilang sama Ibu bahwa aku mengurungkan niat berhenti kuliah. Aku akan kembali masuk kuliah dan mengejar ketertinggalan selama ini. Berusaha keras meraih IP seperti 2 semester awal dulu. Dalam hati aku menguatkan tekad, “persetan dengan kata-kata Ustadz kalau akhirnya aku membuat Ibu menangis dan Bapak menjadi kecewa. Terserah dibilang membuang umur untuk mempelajari ilmu yang haram, terserah dibilang sebagai pengkhianat agama. Persetan dengan semua dalil dan argumen agamis yang mereka sampaikan. Aku mau menghormati orangtuaku meskipun dianggap sebagai “kedurhakaan” kepada Tuhan.
Titik balik itu berlangsung saat liburan semester 6, persis tiga tahun aku menjalani hidup sebagai mahasiswa di Jogja. Kudatangi kampus untuk registrasi masuk kuliah semester 7. Kuminta transkrip nilai. Tak sampai 40 sks mata kuliah yang telah kuambil. IPK-pun hancur di bawah 2,5. Hanya satu tekad kukobarkan, aku tak boleh mengecewakan Bapak dan Ibu lagi.
Aku mulai kuliah. Kajian Salafi masih tetap kuikuti. Aku masih senang dengan uraian hadist dan Al Qur’an dari Ustadz, meskipun sesekali sentilan negatif terhadap filsafat tetap memerahkan mukaku. Aku kemudian menjadi orang aneh. Pergaulanku dengan teman-teman Salafi semakin luas, karena aku adalah santri yang unik bagi mereka, menjadi Salafi tapi kuliah di filsafat.
Suatu hari di tahun awal 2006, aku memutuskan untuk masuk Muhammadiyah lewat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM. Aku mulai intens mengikuti kajian tafsir Ustadz Dr. Yunahar Ilyas, Lc di kantor pusat Muhammadiyah Yogyakarta. Ada hal lain yang kutemui. Ustadz Yunahar lulusan Saudi Arabia, sama dengan Ustadz-Ustadz kenamaan Salafi yang juga menempuh studi di negeri yang didirikan Keluarga Saud itu, yakni gaya ceramah Ustadz Yunahar yang lebih soft dan lebih mengedepankan analogi. Tidak pernah beliau menyerang filsafat, malahan mengatakan filsafat dibutuhkan untuk menghadang musuh-musuh Islam. Aku terheran-heran. Kok bisa beda ya? Kuperhatikan face ustadz Yuhanar, kumis menghiasi wajahnya. Jenggot hanya sedikit. Tak pernah kulihat Ustadz Yunahar memakai kopiah haji meskipun beliau sudah naik haji berkali-kali. Hanya kopiah hitam nasional yang menurut beberapa teman Salafi, tidak Islami. Kuperhatikan celana beliau, berjuntai melewati mata kaki. Aku bertanya, kenapa “Ustadz” satu ini berbeda dengan Ustadz-Ustadz Salafi-ku?
Keherananku semakin kentara ketika Ustadz Faturahman Kamal mengantikan beberapa kali kajian Ustadz Yunahar. Ustadz Faturahman adalah alumni Universitas Islam Madinah yang diklaim sebagai salah satu pusat keilmuan Salafi. Gaya ceramah beliau berbeda. Bahkan sesekali beliau membicarakan geliat dakwah kampus yang menguraikan ketidakwajaran halaqoh dakwah, yang secara eksplisit mengarah kepada Salafi.
Aku kembali bertanya-tanya, apakah klaim Salafi sebagai firqoh yang paling benar sebagaimana yang berbuih-buih disampaikan oleh para Ustadznya BENAR? Sementara itu, senior satu kamarku yang melepasku dalam kebimbangan sendirian, meninggalkan Jogja. Dia sudah lulus kuliah dan hendak pulang kampung untuk mencari pekerjaan demi mempersiapkan lamarannya kepada salah satu teman dari asrama putri.
Kuliahku berjalan lancar. IPK-ku semakin hari semakin naik. Aku semakin menikmati perkuliahan dan uraian-uraian filosofis yang disampaikan dosen. Kajian Salafi mulai jarang kuikuti, kecuali kajian Ustadz Ridwan Hamidi yang tak bisa kutinggalkan sama sekali. Aku teramat suka dengan Ustadz Ridwan, yang seringkali mendapat ejekan dari kelompok Salafi yang lain, karena ceramah beliau yang lembut dan sering membuat jiwaku tentram.
Singkat cerita, bulan Februari ini aku akan diwisuda. Menjadi lulusan terbaik fakultas Filsafat UGM untuk wisuda periode pertama di tahun 2010 dengan IPK 3,61. Penampilanku sudah biasa. Tak ada lagi celana jingkrang di atas mata kaki dan jenggot panjang yang awut-awutan. Aku menjadi orang biasa. Aku tetap normal tidak menjadi gila dengan filsafat yang kupelajari. Aku masih sholat, baca Al Qur’an dan mempercayai Tuhan. Filsafat telah membuka wawasan dan perspektifku lebih luas dalam memandang dunia. Tidak seperti saat di Salafi dengan pola hitam-putih yang dibangun. Hidup dikurung dan dihiasi kebencian kepada orang lain dengan sekat “Kafir”, “Ahlul Bid’ah” dan “Kaum Sesat” yang didasarkan bingkai agama.
Bulan ini, aku bisa mengobati airmata Ibu dan kekecewaan Bapak beberapa tahun lalu. Hari ini aku bahagia tanpa harus kehilangan keIslamanku. Malahan aku menemukan Islam yang damai lewat uraian Ustadz Yunahar Ilyas dan Ustadz Faturrahman Kamal.
Aku tak peduli dengan sindiran keputusanku keluar dari Salafi. Terserah dibilang orang yang futur, tersesar dari jalan dakwah, atau sebutan menyakitkan lainnya. Aku tak peduli sama sekali. Yang penting aku masih menyembah Tuhan, masih mendengarkan Al Qur’an dan Hadist, masih sholat, puasa, mendengarkan ceramah, dan bisa berbakti kepada orangtuaku. Aku punya jalan hidup sendiri dan punya kekuatan pikiran untuk mengarahkannya kemana. Aku sudah tak peduli dengan omongan-omongan negatif tentang keadaanku sekarang. Terserah mereka mau bilang apa…
NB: Kutuliskan cerita ini setelah membaca berita penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah diadakan di Pesantren Gontor yang notabene bukan pesantren Salafi. Kenapa pemerintah Saudi lebih percaya kepada Gontor daripada Pesantren-Pesantren Salafi yang saat ini sudah berdiri di berbagai kota di Indonesia??? Entahlah…Sumber kisah nyata ini bisa anda klik di judul diatas.
Semoga postingan ini bermanfaat


43 komentar:

Akang Pijo mengatakan...

Ikut Salafi sudah berapa tahun ?

Wahabi vs Sunni mengatakan...

agar anda mndapat jawaban yg pas,silahkan bertanya langsung pada orangnya di sumber artikel yg saya tempel diatas.

Anonim mengatakan...

Baru setengah kajian, krn ga kuat dg dalil2nya yo kabour????

Anonim mengatakan...

kisah ini blm bisa dijadikan alasan untuk menyalahkan salafi

ridwanbesemah mengatakan...

Saya juga punya pengalaman yang "senada" dengan artikel kisah nyata di atas.

lpikhadijahplosojombang mengatakan...

kalau keluar dari salafy terus masuk kholafy donk

Yono883 mengatakan...

Walau saya bukan salafi, dari uraian anda, memperjelas anda tdk konsisten dan tdk faham islam, tp itulah takdir anda

Anonim mengatakan...

Berdoalah kepada Allooh :)

Robbanaa laatuzig quluubanaa ba'da idzhadaitanaa wahablahaa milladunka rohmah.Innaka antal wahhaab :)
(QS Ali-Imroon : 8)

"Ya Robb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. :)

arisdiantoro mengatakan...

Ambil sisi POSITIF nya dan tetap melihat kemampuan anda sendiri.

adi kurniawan mengatakan...

Yang nulis orang keblinger. yang punya blog pengekor hawa nafsu

Rassno dewo mengatakan...

kalian tau gak islam ku islam apa, aku bukan islam sunni, wahabi, nu, muhamadiah, salafi dan lain2 agama ku 100% ISLAM gak ada tambahan embel2 lain ya, kalian tau gak agama islam akan berpecah belah menjadi bayak golongan tapi yg benar cuma satu golongan yaitu islam.

Gare mengatakan...

Jempol, sholat zakat puasa bbakti orang tua , tidak merasa paling benar itulah yg diajarkan islam... Peduli amat kalian merasa salafi atau khalafi.. Toh itu bukan mazhab krn mazhab mangacu pada pembawanya atau pendirinya (orang tentunya), kalo salaf atau khalaf didalamnya banyak orang dan banyak pendapat...bukan satu substansi/mazhab.

obeid mengatakan...

sebagai sebuah pengalaman dari perjalanan hidup apa yang dialami penulis patut dihargai.tdk bijak juga kalo kita mudah mengkafirkan org/sesuatu yg tidak sejalan dg kita.KAFIR/IMAN seseorg/sesuatu hanya ALLAH yg berhak menentukan.sebagai hamba kita hanya bs berusaha dan berharap semoga kita tetap sebagai hamba yg beriman.kalo ada org/kelompk yg suka mengKAFIRkan org/golongan lain, sebagaimana jg suka mengklaim sbg pemilik IMAN satu2nya, apalah artinya kalo bukan sedang menyabotase hak prerogatif ALLAH.kalo sudah menyabotase hak prerogatif ALLAH artinya orang/kelompok tsb sedang berada pada jalur mangALLAHkan diri/kelompoknya.wallahua'alam bisshawab

hell mengatakan...

FITNAH!....SUBHANALLAH, TERNYATA INI ORANG FIKTIF ALIAS NGIBUL BELAKA. WISUDA PERIODE 1 UGM TAHUN 2010 ITU TIDAK ADA AKIBAT ERUPSI GUNUNG MERAPI! KEMUDIAN USTADZ YANG ANDA SEBUTKAN DIATAS SETAU SAYA SEMUA MENDUKUNG SALAFY,TERMASUK GONTOR--> TAPI YG ASLI SALAFY LOH BUKAN YG NGAKU2 SALAFY
BAHKAN USTADZ RIDWAN HAMIDI, Lc. MA MEMBELA SALAFY DALAM KAJIAN BEDAH BUKU “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi" KARYA IDHARAM LA'NATULLAH DI JAKARTA DAN YOGYA
FROM MANTAN MAHASISWA TEKNIK PERTANIAN UGM 09/283940/TP/09552

Anonim mengatakan...

Islam itu sudah jelas,
Haram dan halal sudah jelas,
islam sederhana namun detail
Islam itu satu dari adam sampai muhammad
untuk manhaj (pedoman/prinsip) dalam islam sudah jelas

Metode sederhana yang di gunakan oleh para salafussholih kita (dan yang di ajarkan nabi adalah)
Alqur'an -> Sunnah (Nabi dan Sahabat) -> tabi'it tabi'in -> Itjihad.
Model Ijtihad =
Pembuatan Al-Qur'an dalam kitab
Kaligrafi Alqur'an
Qishash para pemabuk di zaman rasul hingga khalifah ke empat.
dan banyak lagi, ini bukan bid'ah..namun ijtihad sahabbat nabi.

Dan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. (Fardhu kifayah berlandaskan fardhu ain yang sudah kuat).

So, Beribadah dengan berprinsip Allah satu
dan Rasulullah Muhammad sebagai penutup Nabi
Shalat wajib apalagi pakai yang sunnah
Puasa Wajib apalagi pakai yang sunnah
Zakat Wajib apalagi pakai sedekah
Haji bila mampu
dengan 6 iman yang berkobar dalam dada.

Beramal dan berilmu yang terbaik, mudah2an Allah menurunkan kemudahan dan cahayaNya kepada siapa saja yang di kehendakiNya.

Fenderz mengatakan...

Islam itu sudah jelas,
Haram dan halal sudah jelas,
islam sederhana namun detail
Islam itu satu dari adam sampai muhammad
untuk manhaj (pedoman/prinsip) dalam islam sudah jelas

Metode sederhana yang di gunakan oleh para salafussholih kita (dan yang di ajarkan nabi adalah)
Alqur'an -> Sunnah (Nabi dan Sahabat) -> tabi'it tabi'in -> Itjihad.
Model Ijtihad =
Pembuatan Al-Qur'an dalam kitab
Kaligrafi Alqur'an
Qishash para pemabuk di zaman rasul hingga khalifah ke empat.
dan banyak lagi, ini bukan bid'ah..namun ijtihad sahabbat nabi.

Dan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. (Fardhu kifayah berlandaskan fardhu ain yang sudah kuat).

So, Beribadah dengan berprinsip Allah satu
dan Rasulullah Muhammad sebagai penutup Nabi
Shalat wajib apalagi pakai yang sunnah
Puasa Wajib apalagi pakai yang sunnah
Zakat Wajib apalagi pakai sedekah
Haji bila mampu
dengan 6 iman yang berkobar dalam dada.

Beramal dan berilmu yang terbaik, mudah2an Allah menurunkan kemudahan dan cahayaNya kepada siapa saja yang di kehendakiNya.

Anonim mengatakan...

Tanda ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar. Dan tanda Jahmiyyah adalah menggelari Ahli Sunnah dengan Musyabbihah.”

orang yang tidak mampu menjalankan perintah Allah selalu mencari alasan seperti yang menulis blok ini

nanang lesmana mengatakan...

Memang Salafi ini salah fikir, istilah salah fikir yang dilontarkan ternyata tidak meleset. Mari kita periksa kebenarannya.

1. Salafi menghujat orang islam bodoh yang berdakwah, tak diketahui batasan bodoh menurut mereka. Toh mereka yang berilmupun masih belum bergerak untuk dakwah. Padahal dakwah itu bukan hanya dengan ilmu saja. 1a. Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. 1b. Allah mengirim 2 ekor burung untuk mendakwahi Habil dan Qabil. 1c. Nabi dihujat habis habisan oleh perempuan yahudi yang buta dan menyuapinya. Nabi tidak membalas walaupun mampu.

2.Membenci mereka yang mengamalkan bid'ah, dan lebih menyayangi / berteman dengan orang kafir. Padahal pelaku bid'ah yang mereka benci tsb telah mengucapkan kalimah "La ilaha Illallah" dan punya peluang untuk masuk Surga. Sementara sikafir kekal di Neraka. Saking bencinya dengan pelaku bid'ah lebih baik berteman dengan akhli Neraka. Masya Allah.

3. Ulama mereka mengeluarkan fatwa tidak berdasarkan penelitian, terjun kelapangan, bermusyawarah tetapi berdasarkan pertanyaan yang masuk atau berdasarkan selbaran yang disampaikan.

4. Diundang dalam acara mendoa menaiki rumah baru, mereka hadir dan disaat tuan rumah melakukan doa bersama dia tidak berdoa karena alasan bid'ah, maka iapun purak purak tidur, Saat mau makan bersama baru dia bangkit.

Saya masih bisa melihat sisi baik salafi. Saran saya sekiranya tak ingin mendoa bersama kenapa kita tidak mengangkat tangan dan berdoa sendiri saja, sesuka kita kalimatnya. Sehingga tuan rumah tidak kecewa. Sehingga mendoa berikutnya mereka tidak diundang lagi, padahal mereka satu rt. Systim masyarakat seperti apa yang ingin mereka bangun ? Sementara mereka main bilyar ditingkat atas rumahnya.

Salafi....salafi. Semoga Allah menambah kepahaman kepada mereka.

nanang lesmana mengatakan...

Dalam hadit 73 golongan, 1 golongan yang masuk surga. Mereka mngklaim yang satu golongan tersebut adalah Salafi. Mernurut Rasulullah yang satu golongan tsb saat sahabat bertanya adalah :
Mereka itu al-jama'ah... (HR. Abu Dawud dan Ad-Darimi). Siapa mereka ? yaitu (yang tetap dalam) jama'ah (HR. Ibn Majah dan Ibn Jarir). Siapa mereka ? Beliau menjawab: Apa yang aku dan sahabatku berpijak di atasnya. (HR. At-Tirmidzi).

Orang yang mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Apa yang aku dan sahabatku berpijak di atasnya (HR. At-Tirmidzi).

Masuk Surga itu ada dua cara. Mampir dulu keneraka baru kesurga kedua tanpa mampir keneraka langsung ke surga. Maka golongan yang yang selamat tsb pasti, pasti, pasti dstnya pasti tanpa mampir keneraka. Mungkinkah “Aku dan sahabatku” mampir keneraka ?

Amal sholeh mana yang pahalanya langsung masuk surga, dimana “Aku dan sahabatku” berada diatasnya. Perhatikan Hadits berikut : ” Telah menceritakan pada kami Uqbah bin Mukram dan Nashr bin Ali: Telah menceritakan pada kami Salam bin Qutaibah dari Tu’mah bin Amru dari Habib bin Abi Tsabit dari Anas bin Malik berkata: bersabda Rasulullah: “Siapa mengerjakan shalat (5 waktu) dengan ikhlas karena Allah selama 40 hari berjamaah dengan mendapatkan takbiratul ihram, dicatat untuknya dua kebebasan, yaitu bebas dari neraka dan bebas dari kemunafikan.” (H R.Tirmidzi)

Bebas dari Neraka, maksudnya langsung masuk surga.

Jadi yang satu golongan itu bukan golongan yang ada sekarang, tetapi setiap insan yang mampu seperti “Aku dan para sahabatku” diseluruh dunia dimanapun berada, walau mereka sekarang telah berada di alam kubur, mungkin anda yang masih hidup sekarang ini atau yang kelak akan lahir nantinya. Mereka seperti “Aku dan para sahabatku” Mereka itulah yang masuk dalam golongan yang selamat.

Kenapa sekarang ada yang mengklaim golongannya yang selamat ? Lalu mengkafirkan golongan yang lain ? Sementara salatnya masih masbuk dan terputus ? Kalaupun salatnya sudah bagus tidak selayaknya kita mengkafirkan sdr kita yang masih berusaha untuk menjadi baik buat mengikuti “Aku dan sahabatku” .

Inilah kesalahan fikir mereka.

nanang lesmana mengatakan...

Silahkan kunjumgi :

http://grelovejogja.wordpress.com/2010/02/13/kenapa-aku-meninggalkan-salafi

http://icunabra.blogspot.com/2009/03/ketika-kebencian-menghilangkan-akal.html

Anonim mengatakan...

Ingat wasiat Rasulullah
Alquran dan hadist

Obat Herbal Alami TBC mengatakan...

Bermanfaat atas informasi yang telah disampaikannya makasih bayak

mario ade saputra mengatakan...

Kalau anda sudah tw dalil2nya itu shahih mohon anda buka QS.an'nissa 155....

Lutfi mengatakan...

Mereka seakan sangat bangga dengan topeng salafy nya, anda tau salafy seperti apa yg ada sekarang? Mari anda tengok sejenak disini http://salafyabad21.blogspot.com/2012/10/siapakah-salafy-yang-sekarang.html

Anonim mengatakan...

kasihan penulis ini, semoga Allah mengembalikan jiwamu yg goyang

s4ud1_Atç mengatakan...

hanya 1 yg benar didunia ini agama ya itu islam ahli sunah wal jama'ah yg lain 62 agama yg lain sesaat semua itu sudah dikatakan oleh nabikan he

s4ud1_Atç mengatakan...

dari 63 alian hanya 1 yg benar didunia ini agama ya itu islam ahli sunah wal jama'ah yg lain 63 agama yg lain sesaat semua itu sudah dikatakan oleh nabikan he

Gtt mengatakan...

Aq bicara sungguh bicara dengan hati bukan untuk menyerang...
Jujur aq bukan orang Salafi atau Sunni, Muhammadiyah atau juga NU... Tapi Sunnah dari Nabi tetaplah kita terima sebagai Sunnah, jika memang contohnya adalah celana diatas kaki dan berjenggot(aq sdr juga belum melaksankannya)... Jika memang dalilnya benar mari kita terima sbg Sunnah janganlah kita berkeras hati dengan mengejek dan memperolok2 (ini jelas haram)...
Islam mengajarkan qt untuk menghindari Mudhorot daripada mengejar Manfaat, termasuk artikel ini jelas ada mudhorotnya maka hentikanlah karena mengajarkan permusuhan (jangan berkeras hati dengan ajaran Nabi dengan berbagai alasan dengan berfikir qt banyak tahu, ingatlah manusia itu tempatnya lupa dan salah)....

Anonim mengatakan...

CAK NO, SANG WAHABI SEJATI YG LAGI SAKIT HATI
Alkisah di negeri antah berantah terdapat sebuah organisasi keagamaan. Nama organisasi tsb adalah CAK NO. Ajarannya gabungan antara islam dan kejawen. Makanya asasnya bernama ASli WArisan JAwa. Ciri-ciri dari pimpinan, tokoh beserta anggota organisasi ini antara lain untuk prianya mudah tensi alias kebakaran jenggot. Makanya jenggot mereka pada habis karena terbakar. Nggak tahulah apa penyebab mereka ini mudah marah. Yg jelas mereka marah kalo ada orang yang ingin menjalankan sunnah dan menjauhi bid'ah seperti yg diperintah Allah dan RasulNya. Kalo ketemu orang yg seperti ini mereka menyebut wahabi. Mereka nggak sadar kalo salah seorang pendiri organisasi mereka bernama Abdul Wahab juga. Ya, Abdul Wahab, bukan hanya BIN Abdul Wahab. Maka secara bahasa yg pantas disebut Wahabi sebenarnya kelompok ini.
Kemungkinan kedua jenggot mereka ini terbakar karena kebablasan nyumut rokok. Karena rokok bagi organisasi ini suatu "kewajiban". Kalo nggak merokok nggak diakui atau minimal kurang diakui loyalitasnya.
Sedangkan perempuannya juga pada kebakaran. Tapi yg terbakar adalah kerudungnya atau bahkan bajunya. Makanya kerudung mereka pendek-pendek atau hanya pakai kupluk, atau bahkan nggak pake kerudung sama sekali. Begitu juga dg bajunya. Sudahlah nggak bisa dikatakan lagi. Nggak ada atsar atau bekas dari keislaman mereka. Akan tetapi para pimpinan dan tokoh mereka enjoy aja melihat yg demikian itu. Justru kalo ada wanita yg mencoba menerapkan ajaran islam yg sebenarnya malah dicemooh. Wal iyyadzu billah.
Demikianlah cerita dari negeri antah berantah. Alhamdulillah kita masih dikenalkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dg Islam yg benar. Sehingga kita tdk mudah kebakaran jenggot, terbukti semakin panjang dan lebat saja kayak jenggotnya para Rasul, Nabi dan para a'immatul ummah salafunasshalih.
Demikian juga para akhwatnya senantiasa istiqomah dan tidak mudah kebakaran kerudung atau jilbabnya apalagi bajunya.

humaidulloh mengatakan...

CAK NO, SANG WAHABI SEJATI YG LAGI SAKIT HATI

Alkisah di negeri antah berantah terdapat sebuah organisasi keagamaan. Nama organisasi tsb adalah CAK NO. Ajarannya gabungan antara islam dan kejawen. Makanya asasnya bernama ASli WArisan JAwa. Ciri-ciri dari pimpinan, tokoh beserta anggota organisasi ini antara lain untuk prianya mudah tensi alias kebakaran jenggot. Makanya jenggot mereka pada habis karena terbakar. Nggak tahulah apa penyebab mereka ini mudah marah. Yg jelas mereka marah kalo ada orang yang ingin menjalankan sunnah dan menjauhi bid'ah seperti yg diperintah Allah dan RasulNya. Kalo ketemu orang yg seperti ini mereka menyebut wahabi. Mereka nggak sadar kalo salah seorang pendiri organisasi mereka bernama Abdul Wahab juga. Ya, Abdul Wahab, bukan hanya BIN Abdul Wahab. Maka secara bahasa yg pantas disebut Wahabi sebenarnya kelompok ini.
Kemungkinan kedua jenggot mereka ini terbakar karena kebablasan nyumut rokok. Karena rokok bagi organisasi ini suatu "kewajiban". Kalo nggak merokok nggak diakui atau minimal kurang diakui loyalitasnya.
Sedangkan perempuannya juga pada kebakaran. Tapi yg terbakar adalah kerudungnya atau bahkan bajunya. Makanya kerudung mereka pendek-pendek atau hanya pakai kupluk, atau bahkan nggak pake kerudung sama sekali. Begitu juga dg bajunya. Sudahlah nggak bisa dikatakan lagi. Nggak ada atsar atau bekas dari keislaman mereka. Akan tetapi para pimpinan dan tokoh mereka enjoy aja melihat yg demikian itu. Justru kalo ada wanita yg mencoba menerapkan ajaran islam yg sebenarnya malah dicemooh. Wal iyyadzu billah.
Demikianlah cerita dari negeri antah berantah. Alhamdulillah kita masih dikenalkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dg Islam yg benar. Sehingga kita tdk mudah kebakaran jenggot, terbukti semakin panjang dan lebat saja kayak jenggotnya para Rasul, Nabi dan para a'immatul ummah salafunasshalih.
Demikian juga para akhwatnya senantiasa istiqomah dan tidak mudah kebakaran kerudung atau jilbabnya apalagi bajunya.

Anonim mengatakan...

Intinya dalam ISLAM tidak mengenal yang namanya berlebih2an. Baik dalam apapun jua. Sholat dan Rajin mengajilah untuk bekal dirimu sendiri namun jangan membenci manusia lain apalagi yang juga mengagungkan ALLAH dan selalu bershalawatlah kepada Nabi Muhammad SAW. Kepada yang beda keyakinan saja kita tidak boleh membenci apalagi sesama aqidah. Manusia di dunia tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik ALLAH SWT. Jadi bersihkan hati bersihkan diri dan jadilah berguna buat orang banyak. Lalu Teguhkanlah iman dan jalani hidup apa adanya dan berkerjalah. itulah inti dari ISLAM. Berdoa selalu kepada ALLAH SWT, mintalah kepadaNYA. dan jadilah orang yang bersyukur dan tawaduk.Jadikan Ilmumu untuk kebaikan UMAT.

Thabit Abdullah Thalib mengatakan...

Ya ahli bid'ah sadarlah dan kembalilah ke pangkuan sunnah.

Thabit Abdullah Thalib mengatakan...

Saudaraku kembalilah kepada Al-Qur'an dan Sunnah, tinggalkanlah syirik dan bid'ah.Jangan lecehkan amalan amalan sunnah. Jika berselisih kembalikan kpd Al-Qur'an dan Assunnah. Sekali lagi, tinggalkan syirik dan bid'ah kembali kpd Tauhid dan Ittiba' Rasulullah.

Thabit Abdullah Thalib mengatakan...

Ya ahli bid'ah sadarlah dan kembalilah ke pangkuan sunnah.

Syarif Amal mengatakan...

Bertaubat lah... Dunia hanya Sementara

Anonim mengatakan...

bismillaah.
semoga yang mempunyai kisah ini dan yang mem posting nya,bisa kembali ke jalan yang lurus, berpedoman khan al quran dan sunnah beserta diatas pemahaman para khulafa ar rasyidin...
nanti kl sudah mati bisa gawat mas.. 1 detik pun g bakal balik lg ke dunia ini..
untuk kulia itu tentunya memerlukan biaya yg tidak sedikit.
mulailah menabung,, belilah buku sejarah islam, bonkar kitab kitab ulama yg shohih...

Ali Samor mengatakan...

Kisahnya mantap jadi tahu siapa wahabi ,dan kembali hidup berbakti kepada orang tua ,itu lebih penting dari pengajian wahabi

Anonim mengatakan...

Apa yang kalian perdebatkan. apakah kalian tidak sadar telah menjadi muslim yang BODOH? seolah kalian merasa hebat dengan pengetahuan jenis-jenis islam yang kalian miliki.Jelas sudah ajaran Allah berpegang kepada Alqur'an dan Hadits. Allah menurunkan ISLAM tanpa nama lain. IMAM-mu hanyalah Alqur'an dan Hadits.

wifqa afdelia mengatakan...

Wahabi memang kasar,..seolah2 berilmu ditentang syiah dialog tak berkutik,bahkan pemerintah saudi menghadihi 1 jt dolar barangsiapa yg bs mematahkan argumentasi syiah,kunjungi aja situs dan tv yg pernah menyiarkan secara langsung,memang wahabi tak berkutik

wifqa afdelia mengatakan...

Wahabi memang kasar,..seolah2 berilmu ditentang syiah dialog tak berkutik,bahkan pemerintah saudi menghadihi 1 jt dolar barangsiapa yg bs mematahkan argumentasi syiah,kunjungi aja situs dan tv yg pernah menyiarkan secara langsung,memang wahabi tak berkutik

Anonim mengatakan...

Pretty! This has been a really wonderful article. Thanks for providing this info.



Feel free to surf to my homepage :: gym workout plans To lose weight

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum
Bismillahirrahmanirrahim
Sekedar berbagi pemahaman dan juga wawasan, silahkan kunjungi blog : asajiutomo99.blogspot.com/

Damai dalam naungan Islam.
Terima kasih
Wassalamualaikum

Anonim mengatakan...

salafi=wahabi=khawarij..ibadah cuma ngitemin jadat, jenggot tebal, celana ngatung, sholat tindis kaki orang, menyatakan kafir-bid'ah-dhoifkan hadist-orang lain, gk tau cara ngolah hati makanya pada rusak hati

Poskan Komentar

Mohon jangan berkomentar memakai kata SARA,Kotor ataupun SPAM.

Mohon Jangan Menggunakan ANONYM,apabila anda tidak mengikuti peraturan ini saya akan menghapus komentar anda tanpa membacanya terlebih dahulu.
Pilihlah Name/URL lalu isi dengan nama anda (URL bisa anda kosongkan atau isi dengan URL http://wahabivssunni.blogspot.com/ saja apabila anda tidak memiliki blog atau website.
Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan berkomentar,wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Design by Faham Wahabi Visit Original Post Ahlus Sunnah Wal Jama'ah