Tampilkan postingan dengan label sejarah wahabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah wahabi. Tampilkan semua postingan

Islam Garis Keras, Imperialisme dan Wahabi (6)


sekte Wahabi
Sebagai sekte yang di-create berdasarkan campur tangan non Muslim, penyimpangan dalam ajaran Wahabi yang tak hanya berdasarkan fatwa-fatwa Muhammad bin Abdul Wahab, tapi juga fatwa para ulamanya, seperti Syaikh Ali al-Kudhair, Syaikh ‘Aidh ad-Duwaisri, Syaikh Abdullah an-Najdi, dan Syaikh Nashir al-Fahd, luar biasa parahnya. Fatwa-fatwa itu bahkan cenderung nyeleneh dan berbahaya. Ini lah beberapa di antara fatwa-fatwa tersebut :

1. Fatwa Syaikh Ali al-Kudhair: Boleh berdusta dan bersumpah palsu demi agama (baca: Wahabi), khususnya bagi para da’i dan mubaligh.
2. Fatwa Syaikh ‘Aidh ad-Duwaisri: Boleh menipu Syi’ah dan orang-orang lain yang berfaham sesat (non Wahabi).
3. Fatwa Syaikh Sulaiman al-Kharasyi: Boleh merampok harta orang-orang sekuler, serta halal nyawa dan kehormatan mereka (persis seperti yang diyakini para teroris seperti Imam Samudera cs).
4. Fatwa Syaikh Ibnu Baz: Boleh menghancurkan website/situs seseorang atau lembaga tertentu, mencuri password dan memata-matai email demi dakwah Salafi Wahabi.
5. Fatwa Syaikh Ibnu Jibrin: Fatwa jihad terhadap Syi’ah dan wajib melaknat mereka.
6. Fatwa Dewan Fatwa Tetap (Lajnah Da’imah): Haram menabur bunga di atas makam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak melarang hal ini).
7. Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin: Haram belajar bahasa Inggris.
8. Fatwa Syaikh Nashir al-Fahd: Haram bertepuk tangan, haram ucapan salam dan penghormatan dalam latihan militer.
8. Fatwa Syaikh Abdullah an-Najdi: Haram bermain bola sepak.
9. Fatwa Syaikh Hamud ibnu Aqla asy-Syu’aibi: Halal nyawa dan kehormatan Abdullah ar-Ruwaisyid, penyanyi Kuwait.
10. Fatwa Ulama-ulama Besar Saudi (Hai’ah Kibar al-‘Ulama): Haram game Pokemon dan sejenisnya bagi anak-anak.
11. Fatwa Syaikh Utsman al-Khamis dan Sa’d al-Ghamidi: Haram penggunaan internet bagi kaum wanita.

Selain fatwa-fatwa yang aneh, nyeleneh, dan tidak masuk akal, para ulama Wahabi juga memiliki ajaran dan pendapat yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah Saw, para sahabat, dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Misalnya;
1. Dalam kitab karangan Abdullah Ibnu Zaid, ulama Wahabi, yang berjudul al-Iman bi al-Anbiya’i Jumlatan (Beriman Kepada Semua Kitab) disebutkan kalau Adam a,s. bukanlah nabi dan juga bukan rasul Allah.
2. Dalam buku al-Qaulu al-Mukhtar li Fana’i an-Nar karangan Abdul Karim al-Humaid, ulama Wahabi, disebutkan bahwa neraka tidak kekal dan orang-orang kafir tidak diazab selamanya di neraka karena akan dipindahkan ke surga.
3. Dalam buku kaum Wahabi yang berjudul Fatawa al-Mar’ah disebutkan bahwa menceraikan istri ketika haid tidak menyebabkan jatuhnya talak (padahal ‘ijma ulama mengatakan, seorang suami yang menceraikan istrinya ketika sang istri sedang haid, maka talaknya tetap sah dan si istri menjadi haram bagi suaminya).
4. Dalam buku berjudul Fatawa al-Mar’ah juga disebutkan bahwa perempuan tidak boleh menyetir mobil (‘Ijma ulama mengatakan, perempuan boleh mengendarai mobil selagi tidak ada fitnah dan tetap terjaga aurat serta kehormatannya).
5. Dalam buku berjudul Fatawa al-Mar’ah juga disebutkan bahwa suara wanita di sisi lelaki ajnabi (bukan mahram atau orang yang boleh dinikahi) adalah aurat yang haram untuk didengar suaranya. Dengan kata lain, wanita haram berbicara di sisi laki-laki (di zaman Rasulullah Saw, perempuan dapat bertanya langsung kepada beliau tentang urusan agama. Ini berarti, dalam Islam, tak apa-apa perempuan berbicara di sisi laki-laki).
6. Dalam buku Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad, ulama Wahabi, disebutkan bahwa mengucap zikir la illaha ilallah sebanyak seribu kali adalah sesat dan musyrik (padahal dalam Al Qur’an surah al-Azhab ayat 41 Allah berfirman; “Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”)
7. Ibnu Utssimin, ulama Wahabi, berkata; “Ziarah kubur bagi wanita adalah haram, termasuk dosa besar, meskipun ziarah ke makam Rasulullah.” (padahal dalam ajaran Islam tak ada larangan wanita melakukan ziarah kubur, termasuk menziarahi makam Rasulullah Saw).
8. Dalam buku at-Tahqiq wa al-Idhah li Katsirin min Masa’il al-Haj wa al-Umrah karangan Abdul Aziz ibnu Abdullah ibnu Baz disebutkan bahwa memotong jenggot, apalagi mencukurnya, hukumnya haram (padahal Islam tidak melarang memendekkan jenggot agar kelihatan rapih, bahkan dianjurkan, karena Allah SWT mencintai keindahan)
9. Ibnu Baz dalam majalah ad-Dakwah edisi 1493 Hijriyah (1995 Masehi) yang diterbitkan Saudi Arabiah menyatakan, haram bagi perempuan muslim mengenakan celana panjang, meskipun di depan suami dan celana panjang itu lebar serta tidak ketat (Islam tidak melarang wanita memakai celana panjang. Apalagi di hadapan suami).
10. Dalam kitab al-Ishabah, al-Juwaijati, imam Masjid Jami’ ar-Raudhah, Damaskus, Syiria, disebutkan, ketika berada di Masjid ad-Daqqaq, Damaskus, salah seorang ulama Wahabi mengatakan, shalawat kepada Rasulullah Saw dengan suara nyaring setelah adzan hukumnya sama seperti seorang anak yang menikahi ibu kandungnya (Islam tidak melarang umatnya bershalawat setelah adzan).
11. Ibnu Baz mengatakan, mengucapkan kalimat shadaqallahu al-adzim (maha Benar Allah dengan segala firman-Nya) setelah selesai membaca Al Qur’an adalah bid’ah sesat dan haram hukumnya (Islam justru menganggap baik mengucapkan kalimat itu karena mengandung pujian kepada Allah, dan sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Qur’an surah Ali-Imran ayat 95 yang bunyinya; “Katakanlah shadaqallahu (Maha Benar Allah (dengan segala firman-Nya).”)

Dari beberapa contoh di atas jelas sekali terlihat kalau ajaran Wahabi telah keluar dari Islam karena terlalu banyak fatwa para ulama dan ajarannya yang tidak sejalan, bahkan bertolak belakang, dengan ajaran Islam. Maka benar pula lah sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Az-Zakah bab al-Qismah yang penggalan sabdanya berbunyi; “ … Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya …” Subhanallah.

Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu pula dengan kejayaan Wahabi. Karena menganggap umat Islam selain pengikut ajarannya adalah kafir dan selalu memerangi, bahkan membunuhi umat Islam dengan dalih jihad fisabilillah, lambat laun antipati terhadap sekte ini meluas di seluruh wilayah Jazirah Arab, sehingga pada akhir abad 19 dakwah para ulama Wahabi tak laku lagi. Bahkan selalu dicerca dan dikecam.

Sadar kalau sektenya dalam bahaya, dengan didukung pemerintah Arab Saudi dan Inggris tentu saja, para ulama penerus Muhammad bin Abdul Wahab menggunakan jurus baru untuk tetap meng-eksiskan sekte ini di muka bumi. Apalagi karena sejarah Wahabi yang kelam dan kotor membuat tak sedikit pengikutnya yang menjadi risih setiap kali berhadapan dengan pengikut sekte Islam yang lain, terutama jika berhadapan dengan pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dalam bukunya yang berjudul as-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarokah La Madzhab Islami, Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi mengungkapkan, Wahabi mengubah strategi dakwahnya dengan mengganti nama menjadi Salafi karena mengalami banyak kegagalan dan merasa tersudut dengan panggilan Wahabi yang dinisbatkan kepada pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Oleh karena itu, sebagian muslimin menyebut mereka sebagai Salafi Palsu atau mutamaslif.

Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, penggunaan nama Salafi untuk Wahabi, sehingga sekte ini sekarang dikenal dengan nama Salafi Wahabi, pertama kali dipopulerkan oleh salah seorang ulama Wahabi yang bernama Nashiruddin al-Albani, seorang ulama yang dikenal sangat lihai dalam mengacak-acak hadist, dan juga seorang ahli strategi. Hal ini diketahui berdasarkan dialog Albani dengan salah seorang pengikutnya, Abdul Halim Abu Syuqqah, pada Juli 1999 atau pada Rabiul Akhir 1420 Hijriyah.

Selain mengganti nama, sekte ini juga mengubah strategi dakwahnya dengan mengusung platform dakwah yang sekilas, jika tidak dipahami benar maksud dan tujuannya, terkesan sangat indah, terpuji dan agung, yakni “kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah”. Apa yang salah dengan platform ini? Gampang dijawab.

Wahabi adalah sekte dengan ajaran yang bahkan oleh para ulama pengikut mazhab yang empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali dianggap sebagai ajaran sesat. Pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab, adalah seorang pria arogan, kasar, dan telah dicuci otak oleh Kementerian Persemakmuran melalui salah seorang agen mata-matanya, Hempher, sehingga telah menyimpang jauh dari ajaran Islam. Ulama-ulamanya pun, termasuk Ibnu Taimiyah, mengeluarkan fatwa-fatwa yang ganjil, nyeleneh dan juga tidak sesuai dengan ajaran Islam. Lalu, bagaimana mereka dapat mengajak setiap Mukmin kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw yang dijabarkan dan dijelaskan para ulama dalam hadist? Al Qur’an dan Sunnah yang mana yang mereka maksud?? Ibnu Taimiyah sendiri, karena fatwa-fatwanya yang nyeleneh dan menyimpang dari Islam, ditangkap, disidang, di penjara di Damaskus, dan meninggal di penjara itu. Sejarah mencatat, sedikitnya ada 60 ulama, baik yang hidup di zaman Ibnu Taimiyah maupun yang sesudahnya, yang mengungkap kejanggalan dan kekeliruan fatwa-fatwa ulama Wahabi itu dan juga ajaran Wahabi.

Penggunaan nama salafi, sehingga kini Wahabi menjadi Salafi Wahabi pun wajib dipertanyakan, karena salafi merupakan sebuah bentuk penisbatan kepada as-salaf yang jika ditinjau dari segi bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman kita. Sedang dari segi terminologi, as-salaf adalah generasi yang dibatasi oleh sebuah penjelasan Rasulullah Saw dalam hadistnya; “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in), kemudian yang mengikuti mereka (tabi at-tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, berdasarkan hadist ini, as-salaf adalah para sahabat Rasulullah Saw, tabi’in (pengikut Nabi setelah masa sahabat) dan tabi at-tabi’in (pengukut Nabi setelah masa tabi’in, termasuk di dalamnya para imam mazhab karena mereka hidup di tiga abad pertama setelah Nabi saw. wafat). Maka jangan heran jika dalam bukunya as-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarokah La Madzhab Islami, Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi menyebut kalau sebagian muslimin menyebut Salafi Wahabi sebagai Salafi Palsu atau mutamaslif.

Yang juga perlu diwaspadai, kadangkala penganut ajaran Wahabi juga menyebut diri mereka Ahlus Sunnah, namun biasanya tidak diikuti dengan wal Jama’ah untuk mengkamuflasekan diri agar umat Islam yang awam tentang aliran-aliran/sekte-sekte/golongan-golongan dalam Islam, masuk ke dalam golongannya tanpa tahu sekte ini menyimpang, dan mengamini ajarannya sebagai ajaran yang benar. Karena itu penting bagi setiap Muslim untuk mempelajari sejarah agamanya, dan sekte-sekte yang berada di dalamnya.

***

Faham Salafi Wahabi masuk Indonesia pada awal abad 19 Masehi. Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, faham sesat ini dibawa oleh segelintir ulama dari Sumatera Barat yang bersinggungan dengan sekte ini ketika sedang menunaikan ibadah haji di Mekah.

Namun demikian, para ulama ini tidak menelan mentah-mentah ajaran Wahabi, melainkan hanya mengambil spirit pembaharuannya saja. Buku karya Syaikh Idahram itu bahkan menyebut, spirit yang diambil ulama Sumatera Barat dari faham Wahabi kemudian menjelma menjadi gerakan untuk melawan penjajah Belanda yang berlangsung pada 1803 hingga sekitar 1832 yang kita kenal dengan nama gerakan Kaum Padri dimana salah satu tokohnya adalah Tuanku Imam Bonjol. Gerakan ini tidak sekeras dan sekaku Wahabi karena dikulturisasi dengan budaya lokal, sehingga mudah diterima masyarakat.

Berkembangnya Wahabi di Indonesia sempat membuat sejumlah tokoh Islam kerepotan karena dituding sebagai pengikut sekte ini. Mereka yang sempat dicap sebagai Wahabisme adalah Syaikh Ahmad Surkati (pendiri al-Irsyad al-Islamiyah), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan Abdul Munir Mulkhan (cendekiawan Muhammadiyah yang juga guru besar UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta), namun semua ini terbantahkan, karena KH. Ahmad Dahlan seorang sufi. Bahkan untuk membantah tuduhan bahwa ia penganut Wahabi, Syaikh Ahmad Surkati menulis begini; “Tangan saya gemetar ketika menulis bantahan ini. Bukan karena saya takut terhadap gerakan yang keras itu, melainkan karena saya memang tidak mengetahui, apalagi mengikutinya.”

Masih menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, pada 1995 Wahabi mulai memiliki media cetak di Indonesia dengan terbitnya Majalah Salafi yang dibidani Ja’far Umar Thalib dan kawan-kawan. Ja’far Umar Thalib juga kita ketahui sebagai Panglima Laskar Jihad.

Saat ini Wahabi telah terpecah menjadi dua faksi, yakni Salafi Yamani dan Salafi Haraki. Selain berjenggot dan mengenakan celana yang menggantung di atas tumit, para pengikut Wahabi dapat dikenali dari ciri-ciri sebagai berikut :

1. Selalu menggerak-gerakkan jari telunjuk naik turun saat tasyahhud awal maupun akhir (padahal Rasulullah Saw tidak pernah melakukan hal ini, karena seperti dijelaskan para ahli fikih, yang dimaksud menggerakkan jari telunjuk saat tasyahhud adalah dari kondisi tangan menggenggam, telunjuk digerakkan hingga menunjuk ke depan (isyarah). Hanya itu, dan tidak digerak-gerakkan terus menerus. Apa yang dilakukan pengikut Wahabi adalah bid’ah)
2. Sesuai doktrin sekte ini, pengikutnya diberikan penggambaran bahwa seperti halnya manusia, Allah SWT juga memiliki wajah, dua mata, mulut, gigi, dua tangan lengkap dengan telapak tangan dan jari-jemari, dada, bahu, dan dua kaki yang lengkap dengan telapak kaki dan betis. Allah berupa seorang pemuda berambut gelombang dan berpakaian merah. Allah duduk di atas Arasy seperti layaknya manusia duduk di kursi. Dia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dan turun dari langit yang satu ke langit yang lain. Jika Allah duduk di Arasy, maka akan terdengar suara mengiuk seperti bunyi pelana kursi unta yang baru diduduki (doktrin ini mirip doktrin dalam Kristen, dimana Isa a.s yang dianggap sebagai anak Tuhan merupakan seorang pemuda dengan rambut bergelombang dan berselendang merah).
3. Pengikut sekte ini memiliki didoktrin bahwa tauhid dibagi tiga, yakni tauhidUlûhiyyah, tauhid Rubûbiyyah, dan tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât , sehingga diyakini bahwa Abu Jahal dan Abu Lahab lebih baik, lebih bertauhid, dan lebih ikhlas dalam beriman kepada Allah SWT daripada umat Islam (padahal dalam Al Qur’an kedua tokoh ini justru dilaknat Allah SWT).
4. Selalu berbeda dalam menentukan hari-hari penting. Misalnya, berpuasa hanya 28 hari di bulan Ramadhan (Ahlus Sunnah wal Jama’ah 29 atau 30 hari), dan pada 1419 Hijriyah (1999 Masehi) menetapkan bahwa waktu wukuf di Arafah bagi jemaah haji pada 17 Maret, padahal para ahli falak berdasarkan hilal menetapkan bahwa waktu wikuf pada 18 Maret.
5. Sangat kaku dan sangat letterlijk (terlalu harfiah) dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an dan hadist (padahal Islam sangat fleksibel. Apalagi karena Islam diturunkan Allah sebagai rahmatan lil alamin).
6. Mengkafirkan umat Islam yang tidak sepaham, dan mudah menuding apa yang dilakukan umat Islam sebagai bid’ah dan musyrik, seperti misalnya melakukan ziarah kubur dan mengucapkan “shadaqallahu al-adzim” setelah membaca Al Qur’an.
read more

Islam Garis Keras, Imperialisme dan Wahabi (5)

Sebagai sekte yang di-create negara penjajah, karakter sekte Wahabi juga tidak berbeda dengan Inggris. Apalagi karena selain ajaran sekte ini jauh menyimpang dari ajaran Islam, juga karena ketika masih berada di Uyainah dan dalam perlindungan Hempher, Muhammad bin Abdul Wahab sempat berjanji kepada Hempher bahwa jika sektenya telah berdiri, ia akan melaksanakan semua isi skema enam paragraph Kementerian Persemakmuran.

Sejarah mencatat, demi meluaskan pengaruh dan menyebarkan sekte Wahabi, juga melaksanakan isi skema enam paragraph Kementerian Persemakmuran, duet Kerajaaan Arab Saudi dan Muhammad bin Abdul Wahab melakukan ekspansi dan penyerangan kemana-mana, dan terjadilah seperti apa yang diinginkan Inggris untuk menghancurkan Islam, yakni pertumpahan darah dimana-mana yang seluruh korbannya adalah orang Islam. Duet ini tidak pernah mengusik orang Yahudi dan Kristen yang datang ke negeri-negeri di sekitar mereka untuk menjajahnya. Sekali lagi, subhanallah, benarlah sabda Rasulullah Saw seperti diriwayatkan Muslim pada Kitab Az-Zakah, bab al-Qismah, yang penggalannya berbunyi; “ … Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala …”

Penyerangan-penyerangan dan pembunuhan-pembunuhan tersebut diakui sendiri oleh para tokoh Wahabi dan bahkan tercantum dalam buku-buku sejarah resmi sekte ini, seperti buku Ad-Durar as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyah yang disusun Abdurrahman ibnu Muhammad ibnu Qasim al-Ashimi al-Qathani an-Najdi yang merupakan kumpulan risalah dan makalah ulama-ulama Najd dari sejak zaman Muhammad bin Abdul Wahab hingga saat ini. Wilayah yang diserang hingga penduduk muslimnya tewas bergelimang darah di antaranya Mekah, Thaif, Madinah, Riyad, Qatar, Bashrah, Karbala, Nejef, Qum, Omman, Kuwait, dan Syam, dan mereka bangga pada tindakannya yang radikal dan tidak sesuai dengan akidah Islam tersebut.

Pertumpahan darah ini mulai terjadi setelah duet Muhammad bin Abdul Wahab dan emir Saudi Muhammad bin Sa’ud mengobarkan semangat jihad terhadap siapapun yang memiliki pemahaman tauhid yang berbeda dengan sekte Wahabi, karena menurut mereka, Muslim non Wahabi adalah kafir, sehingga harus digerebek, dirazia, bahkan dibunuh. Ini terjadi pada 1746 Masehi (1159 Hijriyah). Dalam lima belas tahun sejak jihad dikobarkan, Wahabi berhasil menguasai sebagian besar wilayah Jazirah Arab, termasuk Najd, Arabia tengah, ‘Asir, dan Yaman. Setelah Muhammad bin Abdul Wahab meninggal pada 1791 Masehi (1206 Hijriyah), jihad diteruskan oleh para pengikutnya dan penerus Muhammad bin Sa’ud.

Karbala diserang pada 1802 Masehi (1216 Hijriyah) dengan mengerahkan 12.000 pasukan. Salah satu kota kaum Syi’ah di Irak ini dikepung, penduduknya dibunuh, makam Imam Husein (putra Ali bin Abi Thalib yang juga cucu Rasulullah Saw) dijarah. Versi ulama menyebutkan, penduduk Karbala yang terbunuh dalam peristiwa ini mencapai 5.000 jiwa, sedang versi Wahabi menyebut hanya 2.000 jiwa.

Thaif diserang pada bulan Dzulqa’idah tahun 1217 Hijrah (1803 Masehi). Ketika peristiwa terjadi, sebenarnya antara pemerintahan as-Syarif Ghalib, gubernur kota Mekah yang memerintah kota itu, dengan Wahabi telah terjalin kesepakatan damai, namun Wahabi melanggarnya. Ribuan penduduk kota ini tewas dan para ulamanya dipaksa untuk mengikuti sekte Wahabi di bawah todongan senjata. Ulama yang setuju, selamat, namun yang menolak dibunuh. Mereka juga merampas apa saja yang berharga dari kota itu.

Tentang serangan ke Thaif ini, ulama Mekah al-Mukaramah bermazhab Syafi’i, Ahmad ibnu Zaini Dahlan dalam kitab Umara ul-Baladil Haram yang ditulisnya, menyatakan begini; “Ketika memasuki Thaif, Wahabi membunuh semua orang, termasuk orang tua renta, anak-anak, tokoh masyarakat dan pemimpinnya, membunuh golongan syarif (ahlul bait), dan rakyat biasa. Mereka menyembelih hidup-hidup bayi-bayi yang masih menyusu di pangkuan ibunya, membunuh umat Islam di dalam rumah-rumah dan kedai-kedai kecil. Apabila mereka mendapati satu jama’ah umat Islam mengadakan pengajian Al Qur’an, maka mereka segera membunuhnya hingga tiada lagi yang tertinggal. Kemudian mereka memasuki masjid-masjid dan membunuhi orang-orang yang sedang ruku’ dan sujud, merampas uang dan hartanya, menginjak-injak mushaf Al Qur’an, dan juga menginjak-injak kitab Bukhari, Muslim, kitab fikih, nahwu, dan kitab-kitab lainnya. Kitab-kitab itu kemudian disobek-sobek, dan serpihannya disebarkan di jalan-jalan dan gang-gang. Mereka merampas harta orang-orang Islam, lalu membagikannya di antara mereka, seperti pembagian ghanimah (harta pampasan perang) dari orang kafir.”

Soal serangan ke Mekah, para ahli sejarah berbeda versi tentang tahun kejadiannya. Abdullah bin Asy-Syarif Husain menyebut kalau penyerangan terjadi pada 1218-1219 Hijriyah (1803-1804 Masehi), namun Utsman ibnu Abdullah ibnu Bisyr al-Hanbali An-Najdi menyebut pada 1220 Hijriyah (1805 Masehi). Namun yang pasti, penyerangan terjadi persis pada musim haji, karena umat Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji memang merupakan sasaran utamanya. Dalam penyerangan ini, ribuan Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji tewas. Penduduk juga diserang. Mereka ada yang langsung dibunuh, namun ada juga yang disiksa dahulu, baru dibunuh. Bahkan ada yang dimutilasi dalam keadaan masih hidup. Yang lebih sadis, selain merampas harta penduduk, pasukan Wahabi juga menyandera anak-anak dan baru dibebaskan setelah ditebus orangtuanya.

Mekah diduduki Wahabi selama sekitar enam tahun. Pada periode ini, Mekah benar-benar dalam masa kegelapan karena selain penduduk kota ini tak dapat lagi menjalankan syariat Islam dan harus mengikuti paham Wahabi, juga karena mushaf-mushaf Al Qur’an dibakar, kitab-kitab hadist dibakar, bahkan bangunan-bangunan bersejarah dan makam dihancurkan. Penduduk juga dilarang merayakan Maulid Nabi dan membaca barzanzi. Korban terus bertambah karena kezaliman Wahabi membuat penduduk yang masih hidup mengalami bencana kelaparan hebat karena semua harta yang mereka miliki, telah dirampas.

Madinah diserang pada akhir bulan Dzulqa’idah 1220 H, tak lama setelah Mekah dihancurkan. Dalam serangan ini bukan hanya penduduk dibunuhi dan hartanya dirampas, namun rumah Rasulullah Saw pun digerebek dan semua barang berharga di rumah itu dirampas, termasuk lampu dan tempat air yang terbuat dari emas dan perak berhiaskan permata dan zamrud. Sejumlah ulama di kota ini, seperti Shaikh Islmail al-Barzanji dan Shaikh Dandrawi melarikan diri. Pasukan Wahabi juga menghancurkan semua kubah di Pemakaman Baqi, termasuk kubah makam para Ahlul Baits yang terdiri dari istri-istri Nabi Saw dan keturunannya. Pasukan zalim ini bahkan sempat mencoba memusnahkan kubah makam Rasulullah saw, namun begitu melihat di kubah tersebut terdapat lambang bulan sabit yang mereka sangka terbuat dari emas murni, mereka mengurungkannya.

Puas membuat kerusakan, Pasukan Wahabi meninggalkan Madinah yang telah mereka ubah laksana kota mati yang luluh lantak.

***

Pasukan Wahabi menyerang Uyainah pada bulan Rajab 1163 Hijriah (1750 Masehi). Penduduk dan emir kota itu, Utsman ibnu Hamad ibnu Mu’ammar, dibunuh saat baru saja selesai sholat Jum’at dan masih berada di dalam masjid. Rumah-rumah dihancurkan, ladang-ladang dibakar, semua harta berharga dirampas, dan para wanita dijadikan budak belian.

Tak sampai di situ, Muhammad bin Abdul Wahab bahkan menakut-nakuti penduduk yang melarikan diri agar jangan membangun lagi kota mereka hingga selama 200 tahun dengan alasan, jika sebelum 200 tahun rumah-rumah kembali didirikan di Uyainah, maka Allah SWT akan mengirimkan jutaan belalang untuk meluluhlantakkannya. Ini tentu saja kebohongan belaka. Yang lebih mengiris hati, berdasarkan buku Tarikh Najd, sebuah buku tentang sejarah Saudi yang dikeluarkan oleh kerajaan Arab Saudi, diketahui kalau penyerangan terhadap Unaiyah dilakukan karena Wahabi menganggap penduduk kota itu kafir. Na’uzubillahiminzalik!

Riyad diserang pasukan Wahabi pada 1187 Hijriyah (1774 Masehi). Semua bangunan di kota ini dirusak dan dihancurkan, termasuk bangunan observatorium dan menara. Penduduknya, baik perempuan maupun laki-laki, anak-anak maupun orang dewasa, dibunuh. Selama beberapa hari, Riyad diduduki, dan begitu kota ini ditinggalkan, mereka membawa harta rampasan yang amat banyak.

Kuwait diserang hingga tiga kali. Pertama pada 1205 Hijriyah (1790 Masehi), kedua pada 1213 Hijriyah (1798 Masehi), dan ketiga pada 1223 Hijriyah (1808 Masehi). Seperti halnya serangan pada kota-kota yang lain, bangunan-bangunan di negara kaya minyak ini pun dirusak dan dihancurkan, dan rakyatnya dibunuhi. Kabilah-kabilah di Kuwait dan Bahrain yang menolak membayar jizyah (padahal jizyah hanya dikenakan kepada orang-orang kafir yang dilindungi), diserang habis-habisan. Pada buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi tertulis, serangan Wahabi terhadap Kuwait ini didukung Inggris karena kala itu Kuwait masih berada di bawah pemerintahan Khlaifah Islam Turki ‘Utsmani, sehingga serangan Wahabi ini menimbulkan perang besar yang dikenal dengan nama Peperangan al-Hamdh.

Pada 1338 Hijriyah (1920 masehi), Wahabi lagi-lagi menyerang Kuwait sehingga perang kembali pecah dan dikenal dengan nama Perang al-Jahra. Dalam kejadian ini, ulama Kuwait Syaikh Salim ash-Shabbah nyaris saja tertawan, namun berhasil diselamatkan pasukan Ibnu Thawalah dari Kabilah Syammar dan al-Ujiman. Korban tewas dari tentara dan penduduk sipil Kuwait mencapai ribuan orang.

Pada 1341 Hijriyah (1921 Masehi), pasukan Wahabi yang sebagian besar merupakan tentara kerajaan Arab Saudi, menghadang sekitar 1.000 orang penduduk Yaman yang sedang dalam perjalanan menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Penghadangan dilakukan di lembah Tanumah. Dalam kejadian ini, hanya dua orang yang berhasil melarikan diri karena yang lainnya tewas. Kerajaan Arab Saudi meminta maaf kepada pemerintah Yaman dan berdalih kalau pihaknya mengira rombongan jemaah haji itu adalah jamaah dari Hijaz yang membawa senjata. Namun setelah para ulama melakukan penelitian, diketahui kalau pembunuhan itu memang dilakukan dengan sengaja. Peristiwa ini diabadikan ahli sejarah Dr. Muhammad Awadh al-Khatib dalam buku berjudul Shafahat min Tarikh al-Jazirah al-Arabiyah yang ditulisnya.

Pada 1408 Hijriyah (1986 Masehi) jemaah haji Iran meneriakkan yel-yel yang mengkritik Amerika dan sekutu-sekutunya sambil berjalan menuju Masjidil Haram untuk menunaikan shalat berjamaah, umrah, dan thawaf. Yel-yel yang diteriakkan bunyinya begini; “Kematian untuk Amerika, kematian untuk Rusia, kematian untuk Israel! Wahai umat Islam, bersatulah!” Aksi jamaah haji Iran ini menarik perhatian jemaah haji dari negara lain, dan sebagian dari mereka ikut meneriakkan yel-yel tersebut. Ketika mereka telah mendekati Masjidil Haram, tentara Saudi Arabia menghadang dan menembaki mereka dengan membabi-buta. Sebanyak 329 jemaah haji tewas dan ribuan luka-luka. Pembantaian ini dilakukan karena pemerintah Arab Saudi tak suka negara-negara sekutunya dikecam dan dikritik.

Wahabi benar-benar melaksanakan seluruh isi skema enam paragraf Kementerian Persemakmuran tanpa menyadari kalau kebrutalan mereka membuat sekte mereka tak ubahnya bagai organisasi teroris yang menimbulkan kerusakan dan kematian di mana-mana. Apalagi karena setiap kali melakukan penyerangan, pembunuhan, dan perampasan harta sesama Muslim, sekte ini mendalihkannya sebagai tindakan jihad fisabilillah dan demi menegakkan ajarannya di muka bumi. Sama seperti yang diyakini para teroris saat ini, termasuk Imam Samudera cs. Sekte ini seperti tak kunjung menyadari kalau mereka diperalat oleh orang-orang kafir yang sesungguhnya (baca; Inggris) untuk menghancurkan Islam dan menyeret diri mereka sendiri ke dalam kekafiran.

Jika kita membaca buku-buku yang berkaitan dengan Wahabi, kita akan menemukan lebih banyak lagi kejahatan yang dilakukan sekte ini terhadap umat Islam, karena yang diserang bukan hanya kota-kota, negara-negara, serombongan orang, tapi juga pribadi-pribadi muslim, khususnya para ulama.

Mengutip dari buku Sejarah Berdarah Sekte Wahabi, sejak awal perkembangannya yang dimulai pada 1738, Wahabi telah melakukan kejahatan dengan membunuhi para ulama yang menentang ajarannya, terutama ulama-ulama di kota-kota yang menjadi target penyebaran ajaran sekte ini, seperti Thaif, Mekah, Madinah, Ahsaa, Karbala, Yaman, dan Syam. Ulama yang dibunuh di antaranya ;
1. Syaikh Abdullah az-Zawawi, ulama yang juga mufti Mekah al-Mukaramah yang bermazhab Syafi’i. Ulama ini dibunuh di rumahnya dengan cara disembelih.
2. Syaikh Ja’far asy-Syaibi, dibunuh oleh komandan tentara Wahabi pada 1217 Hijriyah (1802 Masehi).
3. Tiga ulama dari Kabilah Umar ibnu Khalid, dibunuh pada 1838 saat sedang dalam perjalanan menuju Ahsaa.
read more

Islam Garis Keras, Imperialisme dan Wahabi (4)

Hempher menerima pesan dari Kementerian Persemakmuran di London agar ia segera meninggalkan Bashrah dan berangkat menuju Karbala dan Najf, dua kota yang kala itu, pada abad 18 Masehi, menjadi pusat ilmu pengetahuan dan spiritual yang paling populer di kalangan Syi’ah. Hempher sebenarnya enggan berangkat karena saat perintah datang, Muhammad bin Abdul Wahab yang dianggapnya sebagai pemuda bodoh dan tak bermoral, masih perlu didorong untuk segera merealisasinya berdirinya sekte Wahabi, namun karena tugas tak bisa ditentang, ia berpamitan kepada Muhammad bin Abdul Wahab, dan berangkat ke Karbalah dan Najf.

Namun seperti diakui Hempher dalam buku Catatan Harian Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan Islam, setelah ia pergi, Kementerian Persemakmuran tidak melepaskan Muhammad bin Abdul Wahab begitu saja, melainkan terus membina untuk menyesatkannya. Orang yang ditugaskan untuk terus ‘menempel’ kepada Muhammad bin Abdul Wahab di antaranya adalah Shafiyyah, wanita Kristen yang dinikahi Muhammad bin Abdul Wahab dengan cara nikah mut’ah; Abdul Karim, seorang agen mata-mata yang ditugaskan Kementerian Persemakmuran di distrik Jelfah dan Isfahan; dan Aisyah, seorang wanita Yahudi yang juga bekerja untuk Kementerian Persemakmuran yang tinggal di Syiraz. Bukti atas hal ini diutarakan Menteri Persemakmuran kepada Hempher, ketika Hempher menyampaikan kekhawatirannya kalau setelah ia tinggalkan, Muhammad bin Abdul Wahab akan mencampakkan apa yang telah ia tanamkan ke dalam dirinya, dan bahkan mungkin saja akan mempelajari ajaran Islam yang benar. Kata Menteri; “Jangan khawatir. Dia belum mencampakkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang kautanamkan kepadanya. Mata-mata dari Kementerian kita berjumpa dengannya di Isfahan dan melaporkan bahwa dia belum berubah fikiran.”

Bukti lain adalah keterangan Abdul Karim kepada Hempher ketika mereka bertemu. Kata Abdul Karim, Muhammad bin Abdul Wahab bahkan kembali menikahi Shafiyyah secara mut’ah untuk selama dua bulan, dan kemudian menikahi Aisyah dengan cara yang sama, yakni nikah mut’ah.

Setelah menyelesaikan tugas di Karbalah dan Najf, Hempher mendapat cuti selama satu bulan, dan masa cuti ini dimanfaatkan untuk berkumpul bersama anak dan istrinya di London. Selesai cuti, Kementerian Persemakmuran menugaskannya untuk kembali ke Irak dan menemui Muhammad bin Abdul Wahab karena orang tolol ini sangat pas dan cocok untuk mewujudkan tujuan-tujuan kementerian, yakni memecah-belah Islam, melemahkannya, dan menguasai negerinya. Sekretaris Kementerian Persemakmuran bahkan memberitahu kalau mata-mata mereka di Isfahan telah bicara terus terang kepada Muhammad bin Abdul Wahab tentang apa yang diinginkan pemerintah Inggris darinya, dan Muhammad bin Abdul Wahab telah menyatakan bersedia memenuhi keinginan itu asal syarat-syarat yang diajukannya, dipenuhi. Syarat-syarat dimaksud adalah diberi dukungan uang dan senjata untuk melindungi diri dari negara dan ulama-ulama yang pasti akan menyerangnya sebagai akibat dari sekte yang ia dirikan, dan Kementerian telah menyetujui syarat-syarat tersebut.

Hempher senang sekali, sehingga karena takut misi ini akan gagal ia laksanakan, ia meminta arahan tentang apa yang pertama-tama harus ia lakukan, dan Sekretaris Kementerian menyodorkannya skema sebanyak enam paragraph yang harus dipatuhi. Inilah skema enam paragraph itu:

1. Muhammad bin Abdul Wahab harus menyatakan semua orang Muslim yang tidak sejalan dengannya adalah orang-orang kafir, dan memaklumkan bahwa halal hukumnya membunuh mereka, merampas harta mereka, menodai dan mencemarkan nama kehormatan mereka, memperbudak pria-pria mereka, menjadikan wanita-wanita mereka sebagai gundik, dan menjual mereka di pasar-pasar budak.

2. Muhammad bin Abdul Wahab harus menyatakan bahwa Ka’bah adalah berhala dan karenanya harus dihancurkan, menghapus haji, memprovokasi berbagai suku agar menggerebek jemaah haji, merampas harta milik mereka, dan membunuhnya.

3. Muhammad bin Abdul Wahab harus berusaha membuat kaum Muslimin tidak mematuhi dan tidak mentaati khalifah. Ia juga harus memprovokasi mereka agar memberontak terhadap khalifah, harus mempersiapkan pasukan untuk pemberontakan tersebut, dan mengeksploitasi setiap peluang dan kesempatan untuk menyebarkan keyakinan bahwa sangatlah perlu memerangi kaum bangsawan Hijaz dan menghinakan mereka.

4. Muhammad bin Abdul Wahab harus menyatakan bahwa berbagai mausoleum atau tempat pemakaman, kubah dan berbagai tempat suci di negara-negara Muslim adalah berhala, penuh kemusyrikan, dan karenanya harus dihancurkan. Ia harus berusaha sebaik mungkin mencari kesempatan untuk menghina dan melecehkan Nabi Muhammad Saw, khalifah-khalifah, dan juga para ulama terkemuka dari berbagai mazhab.

5. Muhammad bin Abdul Wahab harus sekuat tenaga memicu timbulnya pemberontakan, penindasan, dan anarki di negara-negara Muslim.

6. Muhammad bin Abdul Wahab harus berusaha menerbitkan sebuah Mushaf Al Qur’an yang mengalami perubahan, baik ditambah maupun dikurangi, sebagaimana halnya hadist-hadist Nabi Saw.

Sekretaris Kementerian meminta Hempher agar tidak panik dalam melaksanakan program raksasa ini, karena tugasnya dan tugas Kementerian Persemakmuran hanyalah menebar dan menyemai benih-benih penghancuran Islam, dan apa yang mereka lakukan saat ini akan dituntaskan oleh generasi-generasi setelah mereka.

“Pemerintah Inggris sudah terbiasa bersabar dan melangkah maju setahap demi setahap. Bukankah Nabi Muhammad, sang pemimpin besar revolusi Islam, juga manusia biasa? Dan Muhammad bin Abdul Wahab yang sudah kita kuasai berjanji menuntaskan ‘revolusi’ kita seperti halnya Nabi panutannya,” imbuh sang Sekretaris Kementerian.

Beberapa hari kemudian Hempher kembali ke Irak untuk melaksanakan tugasnya.

***

Hempher mendatangi rumah Abdur Ridha, dan tukang kayu itu menyambutnya dengan hangat seperti layaknya bertemu teman lama. Abdur Ridha bahkan memberi tahu kalau Muhammad bin Abdul Wahab pernah menitipkan surat untuk Hempher, dan surat itu diberikan kepadanya.

Dalam surat itu, Muhammad bin Abdul Wahab memberi tahu kalau ia meninggalkan kampung halamannya, Najd, dan bermukim di Uyainah. Hempher segera menyusul dan menemui orang binaannya itu di sana. Tubuh Muhammad bin Abdul Wahab kurus, dan pemuda itu juga mengaku telah menikahi salah seorang anak kerabatnya yang bermukim di kota itu.

Soal kepindahan Muhammad bin Abdul Wahab ke Uyainah, berdasarkan paparan dalam buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi diketahui kalau tak lama setelah berpisah dengan Hempher, pada 1143 (1730 M) Muhammad bin Abdul Wahab pulang ke Huraimila, desa kelahirannya di Najd, dan langsung berdakwah. Namun dakwahnya yang bertentangan dengan ajaran Sunni, seperti menganggap ajaran Sunni lebih banyak bersifat bid’ah dan menganggap orang-orang yang tidak sepemikiran dengannya adalah kafir, ditentang keras tak saja oleh masyarakat Huraimila dan para ulama Najd, tapi juga oleh keluarganya. Bahkan karena dakwahnya yang dianggap sesat, Muhammad bin Abdul Wahab bertengkar hebat dengan ayahnya, dan sempat akan dibunuh penduduk Huraimila. Saat bertengkar, ayah Muhammad bin Abdul Wahab berkata begini kepada penduduk Huraimila; “Kalian akan melihat kejahatan yang akan dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Allah menakdirkannya yang akan terjadi pasti terjadi!”

Karena tak dapat berdakwah di Huraimila, Muhammad bin Abdul Wahab melarikan diri ke kota Uyainah dan mendekati emir (walikota) di kota tersebut untuk mendapatkan perlindungan. Ia juga menikahi seorang gadis dari salah seorang kerabatnya. Kepada Hempher, Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan kalau ia akan berhenti berdakwah, namun Hempher memberinya semangat. .

“Kukatakan kepadanya bahwa perjuangan Nabi Muhammad Saw untuk mensyiarkan Islam jauh lebih berat dan lebih menderita dari apa yang engkau alami. Engkau tahu, inilah jalan kehormatan dan kemuliaan. Seperti seorang revolusioner lainnya, engkau harus tangguh dan tahan banting!” kata Hempher seperti dikutip dari buku Persekongkolan Menghancurkan Islam.

Untuk tidak menimbulkan kecurigaan penduduk Uyainah atas kehadirannya di sisi Muhammad bin Abdul Wahab, Hempher dan Muhammad bin Abdul Wahab sepakat untuk membohongi penduduk dengan mengatakan kalau Hempher adalah budak Muhammad bin Abdul Wahab yang baru saja kembali setelah melakukan perjalanan ke suatu tempat. Sedang untuk melancarkan dakwah orang yang ia bina untuk menghancurkan Islam tersebut, serta untuk mengamankannya dari serangan-serangan yang dapat terjadi seperti yang dialami Muhammad bin Abdul Wahab di Desa Huraimila, Hempher menyewa sejumlah agen mata-mata yang juga dimanfaatkan untuk berpura-pura menjadi para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab. Hempher menargetkan, dalam dua tahun sekte yang dipimpin Muhammad bin Abdul Wahab, atau sekte Wahabi, sudah dapat diumumkan kepada masyarakat luas.

Kekhawatiran Hempher terbukti. Dakwah Muhammad bin Abdul Wahab ditentang juga oleh masyarakat Uyainah, sehingga Muhammad bin Abdul Wahab, juga Hempher, terpaksa meninggalkan kota itu dan mengungsi ke Dir’iyah yang terletak di sebelah timur kota Najd. Dir’iyah adalah wilayah dimana Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku-ngaku sebagai nabi ketika Rasulullah Saw masih hidup, tinggal. Dari wilayah ini juga gerombolan kaum ‘murtaddin’ menyerang kota Madinah setelah Rasulullah Saw wafat.

Sadar bahwa perjuangan Muhammad bin Abdul Wahab mendirikan sekte Wahabi memang tak mudah, Hempher menghubungi Kementerian Persemakmuran dan meminta bantuan. Kementerian turun tangan dengan melobi Muhammad bin Sa’ud, emir Dir’iyah agar mau melindungi dan bergabung dengan Muhammad bin Abdul Wahab. Muhammad bin Sa’ud setuju. Maka terjalinlah kerja sama yang saling menguntungkan antara Amir Dir’iyah itu dengan Muhammad bin Abdul Wahab, sehingga dalam sekejap mata Muhammad bin Abdul Wahab mendapat pengikut yang amat banyak, dan pada 1738 Masehi, sekte Wahabi dimaklumkan (dideklarasikan).

Berkat Inggris, kekuasaan Muhammad bin Sa’ud sebagai seorang emir, meluas. Bahkan kemudian, pada 1744 Masehi, menjadi sebuah negara yang saat ini kita kenal dengan nama Saudi Arabia (nama ini diambil dari nama keluarga Muhammad bin Sa’ud, yakni Ali Sa’ud yang berarti keluarga Saudi). Dir’iyah dijadikan sebagai ibukotanya, dan Muhammad Sa’ud menjadi emir (penguasa)-nya. Sedang Muhammad bin Abdul Wahab diangkat sebagai imamnya. Berdasarkan kitab Tarikh Ali Sa’ud karya Ustadz Nashir as-Sa’id diketahui kalau Muhammad bin Sa’ud dapat dilobi Kementerian Persemakmuran, karena keluarga Muhammad bin Sa’ud berdarah Yahudi Arab, dan kita tahu Inggris termasuk salah satu negara di dunia yang dikuasai Yahudi melalui Zionis Internasional dengan Freemasonry sebagai salah satu anasirnya.

Ada dua keuntungan yang didapat Inggris dari peristiwa ini. Pertama, berhasil mendirikan sekte baru untuk memecah-belah Islam, dan dapat menyedot limpahan kekayaan negara yang terkandung dalam bumi Arab Saudi, khususnya cadangan minyak buminya. Hingga kini Saudi Arabia masih menjadi salah satu negara di Timur Tengah yang memiliki ‘hubungan sangat baik’ dengan Inggris , dan menganut paham Wahabi.
read more

Islam Garis Keras, Imperialisme dan Wahabi (3)

Sekte Salafi Wahabi muncul setelah pendiri sekte itu, Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi bertemu dengan Hempher di Basrah dan di antaranya kemudian terjalin pertemanan yang dimanfaatkan Hempher untuk menyukseskan misi yang diembannya di Irak.

Muhammad bin Abdul Wahab, menurut Hempher, adalah pemuda yang kasar, penggugup, namun angkuh dan selalu mengikuti hawa nafsunya sendiri dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw..

Pertemuan Hempher dengan pemuda yang menguasai bahasa Arab, Persia, dan Turki tersebut terjadi pada 1713 Masehi (1125 Hijriyah), atau tak lama setelah agen mata-mata Inggris itu mendarat di Bashrah dan melakukan penyamaran yang sama dengan ketika bertugas di Istambul, yakni mengaku sebagai pemuda Turki yatim piatu bernama Muhammad. Bahkan untuk memperkuat penyamarannya, Hempher tak segan-segan mengaku sebagai murid ulama Ahmed Efendi asal Istambul.

Penyamaran Hempher ini nyaris terbongkar pada awal-awal kedatangannya di Bashrah. Kala itu, begitu tiba di salah satu kota terbesar di Irak tersebut, Hempher tinggal di Masjid Syaikh Umar Efendi karena belum mendapatkan rumah sewaan. Imam masjid itu, Syaikh Umar ath-Tha’i, rupanya telah mencurigainya sejak ia datang, dan ia diberondong dengan berbagai pertanyaan, termasuk soal identitasnya. Ia berhasil meyakinkan kyai Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) asal Arab itu kalau ia memang berasal dari Turki, bukan orang Inggris, namun kemampuannya meyakinkan sang Kyai bahwa ia berasal dari Turki, justru membuatnya dicurigai sebagai mata-mata yang dikirim pemerintah Khalifah Islam Turki ‘Utsmani. Hempher pun hengkang dari masjid dan berhasil mendapatkan kamar di sebuah penginapan milik pengusaha bernama Mursyid Efendi.

Namun, kesialan ternyata masih menguntit Hempher karena pengakuannya kalau ia masih lajang dan belum pernah menikah, membuat Mursyid menganggap dirinya sebagai pembawa sial bagi penginapan yang dia kelola. Mursyid bahkan memberinya solusi untuk mengatasi masalah ini, yakni meminta Hempher segera menikah atau keluar dari penginapannya secepat mungkin. Karena sedang mengemban misi dan juga telah menikah, Hempher akhirnya memilih meninggalkan penginapan Mursyid dan kemudian menyewa kamar di sebuah penginapan milik tukang kayu bernama Abdur Ridha. Sambil menginap di sini, dia juga bekerja sebagai asisten pemilik penginapan tersebut.

Abdur Ridha, jelas Hempher, merupakan seorang pria gagah penganut ajaran Syi’ah, dan berasal dari Khurasan. Setiap sore, penginapan Abdur Ridha didatangi orang-orang Syi’ah dari Iran, dan mereka semua bersama Abdur Ridha memperbincangkan berbagai persoalan, baik politik maupun ekonomi. Selama perbincangan berlangsung, orang-orang ini tak segan-segan mengecam pemerintah Irak dan Kekhalifahan Islam Turki ‘Utsmani. Jika saat perbincangan berlangsung ada orang asing yang datang, mereka mengubah topik pembicaraan kepada persoalan-persoalan pribadi. Hempher mengaku kalau Abdur Ridha dan orang-orang Syi’ah Iran itu sangat mempercayainya, karena bahasa Turki yang ia gunakan ternyata membuat dirinya dikira berasal dari Azerbaijan.

Saat Abdur Ridha berbincang dengan orang-orang Syi’ah dari Iran tersebut kadangkala datang seorang anak muda berpakaian perlente yang mengesankan kalau dia adalah pemuda terpelajar yang sedang melakukan penelitian ilmiah. Pemuda inilah Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi. Kedatangan pemuda ini sempat membuat Hempher terheran-heran karena dari caranya berpakaian, Muhammad bin Abdul Wahab yang berasal dari Najd jelas orang Sunni, dan antara Sunni dengan Syi’ah sama sekali tidak akur, selalu bertentangan. Keheranan makin bertambah karena pemuda ini juga selalu mengecam habis-habisan Kekhalifahan Islam Turki ‘Utsmani yang juga Sunni seperti dirinya.

Keheranan Hempher terjawab setelah ia memahami karakter Muhammad bin Abdul Wahab yang penggugup, tapi kasar, sombong dan selalu menuruti hawa nafsunya sendiri dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah itu, karena sifat sombong, kasar dan selalu menuruti hawa nafsunya membuat Muhammad bin Abdul Wahab selalu menolak dan menentang apapun yang dianggap tidak sesuai dengan keinginan dan jalan fikirannya. Pemuda ini bahkan mengabaikan pandangan semua ulama, baik ulama di zamannya maupun imam empat mazhab fikih Sunni (Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Malik bin Anas, dan Muhammad bin Idris asy-Syafi’i), serta tidak mengakui para sahabat terkemuka Rasulullah Saw. seperti Abu bakar Siddiq dan Umar bin Khattab. Mengenai sikapnya ini, Muhammad bin Abdul Wahab berpegang pada sabda Rasulullah Saw yang menyatakan; “Telah kutinggalkan untuk kalian Al Qur’an dan Sunahku”. Karena Sabda Rasulullah Saw adalah demikian, maka menurut Muhammad bin Abdul Wahab, ia tak perlu mengikuti para sahabat maupun para imam mazhab. Padahal ketika dalam perbincangan di penginapan Abdur Ridha hal ini ikut diperdebatkan, salah seorang ulama Syiah dari Qum, Syaikh Jawad, menjelaskan, selain hadist tersebut, juga ada hadist yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Telah kutinggalkan untuk kalian Kitab Allah dan Ahlul Baitku”. Dan yang dimaksud Ahlul Bait dalam hadist ini meliputi keluarga dan sahabat Nabi Saw, serta para imam/ulama.

Sifat dan pola fikir Muhammad bin Abdul Wahab membuat Hempher senang, dan bahkan merasa kalau anak muda ini adalah orang yang tepat yang dapat ia peralat untuk memecah-belah Islam, karena orang seperti ini sangat mudah disesatkan dan pemikiran-pemikirannya dapat didorong untuk dijadikan dasar pendirian sebuah sekte yang menyimpang dari ajaran Islam. Apalagi karena Muhammad bin Abdul wahab pernah sesumbar dengan mengaku dirinya jauh lebih baik dari Abu Hanifah, dan menilai kalau separuh isi kitab Shahihal-Bukhari, buku yang berisi hadist riwayat Bukhari, dipenuhi dengan kesesatan.

***

Hempher mendekati Muhammad bin Abdul Wahab dan menjalin pertemanan dengannya. Untuk membuatnya besar kepala dan kian sombong, Hempher sengaja selalu memuji-muji dan membangga-banggakan pemuda itu di dalam setiap kesempatan. Misalnya saja, Hempher pernah mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab lebih hebat dari Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, sehingga seandainya saja Rasulullah Saw masih hidup, beliau pasti akan menunjuk Muhammad bin Abdul Wahab sebagai khalifah, bukan kedua sahabatnya itu.

“Aku harap Islam akan berjaya dan gemilang di tanganmu, karena engkau lah satu-satunya ulama yang akan berhasil menyebarkan Islam ke segenap penjuru dunia,” katanya.

Hasutan dan pujian yang diumbar Hempher habis-habisan membuat Muhammad bin Abdul Wahab mabuk kepayang, sehingga ketika Hempher mengajaknya menyusun sebuah tafsir baru Al Qur’an yang hanya berdasarkan pendangan-pandangan mereka berdua saja, Muhammad bin Abdul Wahab setuju. Meski pun tafsir itu bertolak belakang dengan tafsir para sahabat Rasulullah saw, para imam mazhab, dan para ulama tafsir Al Qur’an. Tujuan Hampher mengajak pembuatan tafsir baru ini jelas, yakni menyesatkan Muhammad bin Abdul Wahab. Apalagi karena jelas sekali kalau pemuda ini memang ingin tampil sebagai seorang revolusioner sejati yang pandangan-pandangannya dapat diterima masyarakat luas, meski pandangan-pandangan itu berbeda dengan para ulama, sahabat, dan Rasulullah sendiri, sehingga apapun gagasan Hempher, dengan senang hati diterimanya.

Maka begitu lah, di tangan Hempher, Muhammad bin Abdul Wahab benar-benar terseret pada kesesatan dan menyimpang jauh dari ajaran Islam yang sejati. Apalagi ketika Hempher mengusulkan untuk menghalalkan nikah mut’ah (kawin kontrak), dia setuju, dan kepadanya diberikan seorang perempuan bernama Shafiyyah untuk dinikahi dengan cara yang dilarang dalam Islam tersebut. Shafiyyah, jelas Hempher dalam buku Catatan Harian Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan Islam, adalah salah seorang dari begitu banyak wanita Kristen yang dikirim Kementerian Persemakmuran untuk merayu para lelaki Muslim di Irak agar terjerumus dalam perzinahan dan prostitusi. Nama Shafiyyah pun bukan nama sebenarnya, melainkan hanya nama panggilan semata.

Muhammad bin Abdul Wahab menikahi Shafiyyah secara mut’ah hanya untuk satu minggu dengan mahar sejumlah emas. Ayat yang digunakan Hempher untuk menjerumuskan Muhammad bin Abdul Wahab agar terjerumus dalam perzinahan adalah Surah An-Nisa ayat 42 yang berbunyi; “ … Karena kalian beroleh kenikmatan dari mereka, berilah mereka maharnya sebagai kewajiban yang ditentukan …” Makna ayat ini sebenarnya mengatur tata cara pernikahan, bukan menghalalkan nikah mut’ah.

Sukses mejerumuskan Muhammad bin Abdul Wahab dalam perzinahan, Hempher kemudian menjerumuskannya dalam khamar (minuman keras). Dalil yang digunakan Hempher adalah riwayat tentang Yazid dan Khalifah Bani Umayyah dan Bani ‘Abbasiyyah yang menenggak khamar, padahal mereka adalah orang-orang yang pemahaman Al Qur’an-nya lebih baik dibanding Muhammad bin Abdul Wahab, sehingga berdasarkan riwayat ini, maka menurut Hempher, meminum khamar adalah makruh, bukan haram. Bahkan menurut Hempher, Ummar bin Khattab biasa meminum khamar, sehingga turun lah Surah Al Ma’idah ayat 91 yang berbunyi; “Setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian karena khamar dan judi, serta menghalangi kalian dari mengingat Allah dan mengerjakan sholat. Maka, tidakkah kalian menghentikannya sekarang juga?”

Untuk meyakinkan Muhammad bin Abdul Wahab, Hempher mengatakan kalau berdasarkan ayat ini, meminum khamar sesungguhnya tidak haram asalkan tidak mabuk, tidak melupakan Allah, dan tidak lupa sholat. Lebih parah lagi, Hempher juga menggunakan Surah Thaha ayat 14 untuk membuat Muhammad bin Abdul Wahab meninggalkan sholat. Karena bunyi ayat itu adalah “ … Dan kerjakanlah sholat untuk mengingat-Ku”, maka menurut Hempher, umat Islam sebenarnya tidak sholat pun tidak apa-apa asalkan tetap mengingat Allah.

Di tangan Hempher, Muhammad bin Abdul Wahab benar-benar dibuat tersesat dari ajaran Islam yang sesungguhnya, dan keyakinannya terhadap Islam meluntur. Muhammad bin Abdul Wahab sebenarnya sempat mencurigai niat jahat di balik semua dalil yang dicekoki Hempher kepadanya, sehingga suatu kali Muhammad bin Abdul Wahab pernah berkata begini kepada Hempher; “Apakah engkau sedang berusaha membuatku keluar dari agamaku?” Kecurigaan Muhammad bin Abdul Wahab itu muncul ketika Hempher ingin menyesatkannya juga dalam hal berpuasa, karena kala itu Hempher mengutip surah Al Baqarah ayat 184 yang berbunyi; “ .. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya”. Menurut Hempher, karena dalam ayat ini tidak terdapat kata “wajib”, maka sebenarnya berpuasa bagi umat Islam sunah hukumnya, bukan wajib. Atas kecurigaan Muhammad bin Abdul Wahab tersebut, Hempher berkilah bahwa agama adalah kesucian hati, keselamatan jiwa, dan bukan pelanggaran atas hak-hak orang lain, karena bukankah Rasulullah Saw. bersabda, “Agama adalah Cinta?” Bahkan dalam surah Al-Hajr, Allah SWT. berfirman; “Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang yaqin kepadamu’.

Maka menurut Hempher, berdasarkan sabda Rasulullah dan firman Allah SWT., ketika seseorang telah mencapai yaqin tentang Allah dan Hari Kiamat, membaguskan hatinya, dan menyucikan seluruh amal perbuatannya, maka ia akan menjadi orang yang paling baik dan paling saleh di antara umat manusia.

“Muhammad bin Abdul Wahab menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapanku,” jelas Hemper dalam buku Catatan Harian Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan Islam.

Puncak penyesatan Hempher terhadap Muhammad bin Abdul Wahab, yang memotivasi Muhammad bin Abdul Wahab akhirnya membentuk sekte Wahabi adalah setelah Hempher mengaku-ngaku bermimpi bertemu Rasulullah Saw. Kata Hempher kepada Muhammad bin Abdul Wahab; “Semalam aku bermimpi berjumpa Nabi Saw. Aku menyapa beliau dengan berbagai sifat yang kuketahui dari para ulama. Beliau duduk di atas sebuah mimbar. Di sekeliling beliau berkumpul para ulama yang tidak kukenal. Engkau masuk. Wajahmu bersinar cemerlang seperti sebuah lingkaran cahaya. Engkau berjalan menghampiri Nabi Saw. Ketika engkau sudah cukup dekat, Nabi Saw berdiri dan mencium dahimu. Beliau bersabda; “Engkau lah pewaris ilmuku, wakilku dalam berbagai urusan duniawi dan ukhrawi”. Engkau pun berkata; “Ya, Rasulullah, aku takut menjelaskan ilmuku kepada orang banyak”. “Engkau lah yang terbesar. Jangan takut,” jawab Nabi Saw.”

Muhammad bin Abdul Wahab senang sekali mendengar bualan Hempher dan berkali-kali menanyakan apakah mimpi Hempher itu benar, dan Hempher tentu saja membenarkan.

“Sejak saat itu, kukira, ia berniat memaklumkan berbagai ide atau gagasan yang telah kutanamkan dalam dirinya untuk kemudian mendirikan sebuah sekte baru bernama Wahabi,” jelas Hempher sebagaimana tertulis dalam buku Catatan Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan Islam.

Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab sangat mudah disesatkan karena pengetahuan agama pemuda yang lahir pada 1703 Masehi (1115 Hijriyah) dan wafat pada 1792 Masehi (1206 Hijriyah) ini memang kurang memadai karena dia hanya belajar ilmu dari segelintir guru, termasuk dari ayahnya yang seorang qadhi (hakim). Muhammad bin Abdul Wahab pernah mengaji kepada beberapa guru agama di Mekah dan madinah, seperti kepada Syaikh Muhammad ibnu Sulaiman al-Kurdi dan Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi. Ketika ia ke Bashrah, ia sebenarnya ingin berguru kepada seorang syaikh di sana, namun ditolak menjadi murid.
read more

Islam Garis Keras, Imperialisme dan Wahabi (2)

Sejarah berdirinya sekte Salafi Wahabi bermula dari berdirinya Kementerian Persemakmuran (Commonwealth Ministries) di London, Inggris, dengan misi utama mempertahankan wilayah-wilayah yang telah dikuasai dan untuk menguasai wilayah-wilayah yang belum berhasil dikuasai. Ketika kementerian tersebut dibentuk pada abad 18 Masehi, Inggris merupakan negara yang menjajah banyak negara di Asia, Afrika dan Timur Tengah. Negara di Asia yang dijajah di antaranya India dan China.

Dalam buku berjudul Catatan Harian Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan Islam, juga berdasarkan referensi beberapa sumber, seorang intelijen Inggris bernama sandi Hempher menjelaskan, negara-negara non muslim seperti China dan India adalah negara-negara yang relatif mudah untuk ditundukkan karena agama Hindu, Buddha dan Konghucu yang dianut oleh mayoritas rakyat kedua negara itu adalah agama-agama yang tidak mempedulikan kehidupan duniawi, sehingga rakyat di kedua negara itu cenderung kurang memiliki rasa patriotisme dan Inggris tidak menganggap mereka sebagai ancaman yang serius.Meski kala itu di India terdapat Kesultanan Islam, namun rakyat India yang majemuk, bahkan jumlah pemeluk Islam tidak sebanyak pemeluk agama Hindu, dengan cepat Kesultanan India dapat diberangus dengan beragam cara, di antaranya dengan memperalat Mirza Ghulam Ahmad untuk mendirikan sekte Ahmadiyah, sehingga umat Islam India terpecah belah dan bertikai. Ahmadiyah bahkan digunakan untuk mem-back up setiap kebijakan yang diberlakukan di negara jajahannya itu, sehingga apapun kebijakan Inggris, meski merugikan dan menyengsarakan rakyat India, Ahmadiyah mendukung dan membelanya.

Hempher mengaku, yang membuat gentar Inggris adalah negara-negara Islam, termasuk Turki yang kala itu di bawah pemerintahan Kesultanan Islam Turki ‘Utsmani, dan belum dapat dikuasai. Hempher mengaku, Inggris sebenarnya telah berhasil melemahkan kesultanan ini dengan dua cara, yakni dengan membuat perjanjian yang menguntungkan Inggris, dan membuat perjanjian rahasia dengan Iran, sehingga Iran bersedia menempatkan orang-orangnya di Turki yang dapat dikendalikan oleh Inggris. Akibat kedua siasat ini, Kesultanan Turki didera kasus korupsi, salah-urus administrasi, mengabaikan pendidikan, dan sebagainya, sehingga pemerintahan melemah dan Inggris menjuluki negara ini sebagai The Sick Man of Asia.

Namun meski Kesultanan Islam Turki ‘Utsmani melemah, Hempher mengaku kalau Inggris masih saja khawatir kepada penduduk negeri ini yang mayoritas memeluk agama Islam. Bahkan kekhawatiran ini membuat Inggris yakin kalau Kesultanan Turki baru akan runtuh dalam 100 tahun.

Hempher menyebut beberapa alasan yang membuat Inggris tetap gentar pada Kesultanan Islam Turki ‘Utsmani. Pertama, karena umat Islam sangat taat menjalankan ajaran agamanya, dan rela mati demi agamanya itu. Kedua, karena Islam adalah agama yang peduli pada masalah administrasi dan kekuasaan sehingga tak mudah dibohongi. Ketiga, karena Inggris khawatir Kesultanan Islam Turki ‘Utsmani dan pemerintah Iran mengetahui grand design yang sedang dijalankan di kedua negara itu, khususnya di Turki. Dan keempat, karena para ulama di Istambul dan Al-Azhar, juga di Irak dan Damaskus, tak mau berkompromi barang sedikit pun karena mereka tak tertarik pada kesenangan duniawi yang ditawarkan Inggris dan lebih peduli untuk meraih surga seperti janji Allah SWT., sehingga Inggris menganggap para ulama ini sebagai rintangan yang tak dapat diatasi dalam upayanya menjajah Turki.

Tak putus asa, Kementerian Persemakmuran kemudian menyelenggarakan konferensi yang tak hanya dihadiri para pejabat penting dan agamawan Inggris, tapi juga dihadiri diplomat dan agamawan Rusia dan Perancis. Hempher yang hadir dalam konferensi ini menyebut, dalam konferensi juga dibahas berbagai rencana untuk memecah-belah kaum Muslimin dalam berbagai kelompok (sekte), membuat mereka meninggalkan agamanya (murtad), dan mengkristenkannya sebagaimana yang terjadi di Spanyol. Usai konferensi, ribuan agen rahasia (intelijen) dan misionaris, termasuk Hempher, disebar ke seluruh penjuru dunia, khususnya ke negara-negara Islam yang ingin dikuasai. Hempher tegas mengatakan, misi ini dipelopori Inggris.

***

Kementerian Persemakmuran mengirim Hempher ke Mesir, Irak, Hijaz dan Istambul untuk mengumpulkan informasi dan data-data guna memecah-belah Islam. Selain Hempher, ada sembilan mata-mata lagi yang dikirim untuk melakukan misi yang sama dan pada watu yang sama pula, yakni pada 1122 H/1710 M. Sebelum berangkat, Kementerian membekali Hempher cs dengan uang, informasi tentang negara-negara dan kota-kota yang akan didatangi, peta, bahkan nama-nama pejabat, ulama, dan kepala suku di negara-negara itu agar pelaksanaan misi menjadi lebih mudah. Menteri Persemakmuran bahkan berpesan begini; “Masa depan negara kita bergantung pada keberhasilan kalian. Karena itu, kalian harus berbuat sekuat tenaga.”

Tempat pertama yang didatangi Hempher adalah Istambul, ibukota Kekhalifahan Islam Turki ‘Utsmani. Untuk menyukseskan misinya, mata-mata yang kala itu masih berusia dua puluh tahunan tersebut menggunakan nama palsu Muhammad, dan memperdalam lagi bahasa Turki yang telah dipelajarinya di London agar penyamarannya sempurna.

Di Istambul, Hempher menjalin hubungan baik dengan seorang ulama tua bernama Ahmed Efendi. Kepada ulama ini, Hempher mengaku telah yatim piatu dan datang ke Istambul selain untuk mencari pekerjaan, juga untuk mempelajari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. Ahmed tidak curiga dan menerimanya dengan tangan terbuka. Apalagi karena Hempher melaksanakan sholat lima waktu sebagaimana layaknya muslim. Dari Ahmed lah Hempher mempelajari segala hal tentang Islam, dan semua yang diperolehnya dari Ahmed, juga dari hasil pengamatannya selama berada di Istambul, dilaporkan secara berkala kepada Kementerian Persemakmuran.

Dalam buku Catatan Harian Seorang Mata-mata dan Persekongkolan Menghancurkan Islam, Hempher menyebut kalau Kementerian menugaskan dirinya di Istambul selama dua tahun (hingga 1712 Masehi/1124 Hijriyah). Setelah masa tugas berakhir, dia diminta pulang ke London untuk memberikan laporan secara menyeluruh dan terinci. Begitupula dengan sembilan mata-mata lain yang mendapatkan misi yang sama dengannya.

Namun, jelas Hempher, termasuk dirinya, hanya enam orang saja yang pulang, karena satu dari empat orang yang tidak pulang malah memeluk Islam dan menetap di Mesir; seorang lagi pulang ke kampung halamannya karena ternyata dia adalah anggota KGB (dinas intelijen Rusia) yang ditugaskan untuk memata-matai Inggris; seorang lagi meninggal di Imrah, sebuah kota kecil di dekat Baghdad, akibat wabah penyakit yang menyerang kota itu; dan yang seorang lagi hilang tak tentu rimbanya setelah setahun menjalankan tugas.

Hempher mengaku, hasil penyamarannya di Istambul mendapatkan pujian dari Kementerian Persemakmuran, namun karena informasi yang didapatnya belum dapat mengungkap kelemahan Kekhalifahan Islam Turki ‘Utsmani, laporannya hanya diganjar sebagai laporan terbaik ketiga setelah laporan rekannya yang bernama George Belcoude (laporan terbaik pertama), dan Henry Fanse (laporan terbaik kedua). Kementerian lalu memberinya tugas kedua dengan dua misi yang harus digolkan. Pertama, menemukan berbagai titik lemah kaum muslimin dan celah-celah yang dapat digunakan untuk memecah-belah mereka, dan kedua setelah kelemahan dan celah-celah itu didapatkan, langsung dimanfaatkan untuk menimbulkan perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam.

“Jika engkau berhasil dengan kedua misi ini, engkau akan menjadi agen mata-mata yang paling berhasil dan memperoleh medali penghargaan dari Kementerian Persemakmuran,” pesan Menteri Persemakmuran kepada Hempher.

Sebelum mengemban misi tugas kedua tersebut, Hempher yang kala itu berusia 22 tahun diberi cuti selama enam bulan, dan masa cuti ini dimanfaatkan untuk menikahi sepupunya, Maria Shvay yang berusia 23 tahun. Setelah masa cuti habis, dia berangkat ke Bashrah, Irak, sesuai kota yang ditunjuk Kementerian Persemakmuran untuk melaksanakan tugas keduanya. Sebelum Hempher berangkat, Menteri Persemakmuran berpesan begini kepadanya; “Wahai Hempher, ketahuilah bahwa banyak perbedaan alami di antara umat manusia sejak Tuhan menciptakan Abel (Habil) dan Cain (Qabil). Perbedaan seperti ini akan terus ada hingga kedatangan Yesus Kristus kelak. Begitupula halnya dengan perbedaan ras, suku, wilayah, kebangsaan, dan agama. Tugasmu kali ini adalah mendiagnosis berbagai kontroversi dan perbedaan ini dengan baik, serta melaporkannya kepada kementerian. Semakin berhasil engkau memperburuk dan memperparah perbedaan di antara kaum Muslim, semakin besar jasa dan pengabdianmu kepada Inggris. Kita, orang-orang Inggris, harus berbuat kerusakan dan membangkitkan perpecahan di seluruh negara jajahan kita agar mereka hidup bermewah-mewahan. Hanya dengan berbagai hasutan seperti itu kita akan bisa menghancurkan Kekhalifahan Turki ‘Utsmani. Jika tidak, bagaimana mungkin sebuah bangsa dengan jumlah populasi lebih sedikit bisa menguasai bangsa lain dengan jumlah populasi lebih banyak?”

Menteri Persemakmuran menambahkan; “Tebarkanlah benih-benih perpecahan begitu engkau mendapatkannya dengan sekuat kemampuanmu. Ketahuilah bahwa Kekhalifahan Turki ‘Utsmani dan Kekaisaran Iran telah mencapai puncak kemunduran dan kemerosotannya. Karena itu, tugas pertamamu adalah menghasut orang-orang untuk berontak melawan pihak yang berkuasa. Sejarah telah menunjukkan bahwa sumber segala jenis revolusi adalah pemberontakkan massa. Ketika kaum Muslim terpecah-belah dan tidak bersatu serta memiliki rasa senasib-sepenanggungan, mereka akan melemah dan dengan demikian kita mudah menghancurkan serta meluluhlantakkan mereka.”
read more

Wahhabi sect

Wahhabi sect
History of the Wahhabi establishment in accordance with the origin and history of its development as much as possible based on a variety of sources and reference books that can be accounted for, among other things, Fitnatul Wahabiyah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan's work, I? Tirofatul Jasus Mr AI-Injizy recognition. Hempher, State of the Ottoman and Khulashatul Kalam Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, and others.

Wahabi stream name is taken from the name of its founder, Muhammad ibn Abdul Wahab (born in the year 1111 Najed H / 1699 AD). Originally he was a trader who frequently move from one country to another and among nations is ever visited Baghdad, Iran, India and Sham. Later in the year 1125 AH / 1713 AD, he was influenced by a British orientalist named Mr.Hempher who worked as a British spy in the Middle East. Since then he became a tool for the UK to spread the new doctrine. UK does have successfully established sects even a new religion in the middle like the Ahmadiyya Muslims and Baha? I. Even Muhammad bin Abdul Wahab is also included in the program target of the colonial working with Wahabi stream.

At first Muhammad bin Abdul Wahab live in the neighborhood schools of Hanbali Sunni followers, even his father Sheikh Abdul Wahab is a good Sunni, as are the teachers. But from the beginning his father and his teachers have a hunch that is not good about him that he was going astray and spread heresy.They even told the people to be careful about it. It was not long after hunch was right. After it was proved against him and gave him a special warning. Even his brother, Sulaiman bin Abdul Wahab, the clergy? of the Hanbali madhhab, writes to him with a rebuttal book As-Sawa title? iqul Divining Fir alal Wahabiyah Raddi. Also do not miss one of the teachers in Madinah, Sheikh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi? I, write a letter of advice:? O Ibn Abd al-Wahab, I menasehatimu for God, resist mengkafirkan lisanmu of the Muslims, if you hear someone believes ditawassuli that people can benefit without the will of Allah, then teach him the truth and explain their argument that besides Allah can not benefit or madharrat, when he opposed the so-so she thought you were disbelieved, but you may not mengkafirkan Sawadul As-A? Dham (group majority) among the Muslims, as you move away from the largest group, those who stay away from the largest group closer to paganism, because he did not follow the path of Muslims?.

As we know that Ahlus Sunnah schools today is the largest group. He said:? And whoever opposes the Apostle after the obvious truth for him, and follow the path that is not the way of the believers, we leave it freely to the error that has mastered it (God let them wallow in error) and we put it into the jahannam, and jahannam was an evil refuge (Surat An-Nisa 115)

One of the doctrines (believed by Muhammad bin Abdul Wahab, is mengkufurkan Sunni Muslims who practice tawassul, grave pilgrimage, the Prophet's birthday, and others. Various arguments are presented accurately Ahlussunnah wal jama? Ah deals with tawassul, as well as the grave pilgrimage birthday, was rejected without an acceptable reason. Even more than that, it turned mengkafirkan the Muslims from 600 the previous year, including the teachers themselves.

On one occasion someone asked Muhammad bin Abdul Wahab,? How many God saves people from hell during Ramadan? He immediately replied,? Every night God frees 100 thousand people, and at the end of the night of Ramadan Allah frees as much a matter of people who have been freed from the beginning to the end of Ramadan? He asked again? If so followers do not reach even one person from that number, then who are the Muslims that God freed them? Where did so many of them? While you are limiting that only followers are Muslims.?Heard Ibn Abd al-Wahab's answer was silent for a thousand languages. Nevertheless Muhammad bin Abdul Wahab ignored the advice of his father and his teachers were.

With berdalihkan purification of Islam, he continued to spread his message around the Najed. People who lack much knowledge of religion is affected. Included among his followers is the ruler of Dar? Yeah, Muhammad bin Saud (died 1178 AH / 1765 AD) the founder of the Saudi dynasty, which later became law. He supports full and use them to expand their territories. Ibn Saud himself very obedient to the command of Muhammad ibn Abdul Wahab. If he is ordered to kill or rob him of one's possessions so soon with the belief that the Muslims had been pagan and shirk for 600 years more, and kill the idolaters are guaranteed heaven.

From the beginning of Muhammad bin Abdul Wahab is very fond of studying the history of false prophets, such as Al-Kadzdzab Musailamah, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy etc..Presumably he had a desire confessed prophet, it seems once when he called the followers of the region the nickname of Al-Ansar, while his followers from outside the area was nicknamed Al-immigrants. If someone wants to be his followers, he should say shahada in front of her two later had to admit that before getting Wahabi himself is polytheistic, as did his parents. He also acknowledged that the scholars are required? previously have died of the infidels. If you want to admit that he was accepted to be his followers, if not he was immediately killed.Muhammad bin Abdul Wahab also often demeaning the Prophet Muhammad in the name of the purification of faith, he also let his followers insulting the prophet before him, to the extent of his followers say? Wand is still better than Muhammad, because my stick can still be used to kill snakes, whereas Muhammad died and left no benefits at all. Muhammad bin Abdul Wahab in the presence of his followers are like the prophet before his time.More and more followers and more extensive territory. Both work together to eradicate the tradition which he considers wrong in Arab societies, such as tawassul, grave pilgrimage, Maulid warning and so on. No wonder that the followers of Muhammad ibn Abdul Wahab and then attacked the noble tombs. In fact, in 1802, they attacked Karbala, Iraq, the place was interred the bodies of the Prophet Muhammad's grandson, Hussein bin Ali bin Abi Talib. Because the cemetery is considered a potentially shirk evil to God. Two years later, they attacked Medina, destroying the existing domes over the graves, looted ornaments in Hujrah Prophet Muhammad.

The success continues to conquer Medina. They go to Mecca in 1806, and the damage kiswah, cloth Ka? Bah made of silk. Then knock down dozens of domes in Ma? La, including the dome of the Prophet Muhammad's birthplace, the birthplace of Sayyidina Abu Bakr and Sayyidina Ali, also dome Sayyidatuna Khadijah, Abdullah bin Abbas mosque. They continue the destruction of mosques and places of Solihin while cheering, singing and percussion accompaniment of drums. They also berated experts and even some of those buried in the tomb of the urine is Solihin.The Wahhabi movement was made Sultan Mahmud II, ruler of the Ottoman Empire, Istanbul-Turkey, angry. Dikirimlah soldiers headquartered in Egypt, under the leadership of Muhammad Ali, to disarm him. In 1813, Medina and Mecca can be retaken.Wahabi movement subsided. But, at the beginning of the 20th century, Abdul Aziz ibn Sa? Ud rise again carried the understanding of Wahabi. 1924, he succeeded in occupying Mecca and to Medina and Jeddah, exploit the weaknesses of Turkey due to its defeat in World War I. Since then, until now, the notion of government control in Wahabi Saudi Arabia. Today the global influence of the Wahhabi movement. Riyadh spend millions of dollars each year to spread the Wahhabi ideology.Since the presence of Wahhabis, the Muslim world is never quiet mind is full of turbulence, because it always dispel the extremes of thought and understanding of religious Sunni-Syafi? I already established.

Cruelty and other Wahabi ignorance is undermining the domes on the tomb of the Prophet SAW companions who are in Ma? La (Mecca), the Baqi? and Uhud (Medina) were all demolished and razed to the ground by using dynamite crusher. Similarly, the dome on the ground of the Prophet Muhammad was born, which is in Suq al Leil razed to the ground by using dynamite and used as camel parking lot, but due to the incessant urging of the International Muslims built the library. The Wahhabis never really appreciate the heritage and respect the noble values ​​of Islam.Originally Qubbatul AI-Khadra (green dome) where the Prophet Muhammad is buried will also be destroyed and razed to the ground but because of the threat of International the savages became scared and thought better. Similarly, the entire set will be modified including the rituals of Hajj Ibrahim maqom will be shifted, but because many are against it then undone.

Development of the holy city of Makkah and Madinah recently ignoring Islamic historical sites. Just getting out of the building to witness the history of the Prophet Muhammad and his companions. The building was demolished for fear to be a place sacred. Even now, the birthplace of the Prophet Muhammad in danger of being demolished for the expansion of the parking lot.Earlier, the house was first Prophet was evicted. In fact, that is where the Prophet received a revelation over and over again. On the spot for their child is born and Khadijah died.

Rigid interpretation of Islam practiced by most Wahhabism have a hand in this destruction. The Wahhabi view historical sites that could lead to a new idolatry. In July of last, Sami Angawi, an expert of Islamic architecture in the area say that some of the buildings of the ancient Islamic era threatened destroyed. At the 1,400-year-old building site was to be built the road to a high tower which is the goal of pilgrimage and Umrah pilgrims.

? At present we are witnessing the last moments of the history of Makkah. Historical section will soon be demolished to build the parking lot? he told Reuters. Angawi said at least 300 historic buildings in Mecca and Medina were destroyed during the last 50 years. Even most of the Islamic historical buildings have been extinct since Saudi Arabia was established in 1932. This is related to the edict issued by the Council of Senior Religious Empire in 1994. In the written notice,? Preservation of historic buildings has the potential to lead Muslims to worship idols.?

The fate of Islamic historic sites in Saudi Arabia is very sad.They destroy many relics of Islam since the time of Ar-Rasul SAW. All traces of the Prophet's efforts up by Wahabi-style modernization. Instead they actually bring in the archaeologists (archaeologist) from around the world at a cost of hundreds of millions of dollars to dig up relics of pre-Islamic ignorance both of the previous or the pretext of tourism. Then they proudly showed that pre-Islamic era have shown remarkable progress, no doubt this is the removal of historical evidence that would create a doubt in the future.

Wahhabi movement was driven by the interpreter and the extreme radical propaganda, they sow enmity and hatred backed by substantial financial. They are fond of accusing the Islamic group that is not in line with those charged with infidels, shirk and experts bid? Ah. It was as always echoed on every occasion, they never acknowledge the services of any Islamic scholars except their own group. In our country is their deep grudge and hatred to the Wali Songo are spread Islam and to the citizens of this country.

They said the mayor was still teaching polytheism mishmash of Hinduism and Buddhism, but the Mayor had been Islamized to 90% of the population of this country. Can-Wahhabi Wahhabi Islam was to her the remaining 10%? Maintain the 90% of the infidels terkaman just would not be able to, let alone want to add the remaining 10%. Instead they simply mengkafirkan people with real bertauhid to Allah SWT. If not for the grace of God that predetermine the Wali Songo to preach to our country, of people who become the mouthpiece of the Wahabi's still in animism, still pagan or heathen. (Naudzu billah min forbid).

Therefore, it should not be trusted when they claim to understand that just as sticking to the Qur? An and Sunnah. They argue especially following the example of the Salaf group claiming to be a survivor and so on, it's all nonsense. They have been incised black record in the history of the slaughter of thousands of people in Makkah and Madinah as well as other areas in the Hijaz (now called the Saudis). Do not you know that the slaughtered at that time consisted of the pious scholars and pious, even children and their children were slain in front of his mother. This bloody tragedy occurred around the year 1805. All they are doing under the pretext of combating bid? Ah, but not the name itself is a Saudi bid name? Ah? Because the country's name is replaced with the name of the Prophet Muhammad a supporter of the royal family Wahhabi ideology that is As-Sa? Ud.

It was Prophet Muhammad preached the coming of this Wahhabist ideology in some hadith, this is a prophetic sign of his SAW in reporting things before they happen. The whole of this hadeeth is saheeh, as contained in the books of Sahih Bukhari & Muslim and others. Among them:? Slander is coming from there, it's slander coming from that direction,? while pointing to the east (Najed). (Narrated by Muslim in Kitabul Fitan)

? Will come out of the east class of people who read the Holy Quran?'s But did not get past their throats (do not get to the heart), they come out of religion as an arrow out of his bow, they will not be able to come back like an arrow that will not be back into place, they are signs of a shave (Bald).? (HR 7123 Bukho no-ri, Juz 6 20 748 terms). This hadith is also narrated by Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud, and Ibn Hibban

Prophet Muhammad had prayed? A:? O God, give us grace in the Sham and Yemen? The Companions said: And of Najed, Messenger of Allah, he prayed? A: O Allah, give us grace in the Sham and Yemen, and on the third time he SAW said:? There (Najed) there will be fitnah and there keguncangan Similarly devil horns will appear.?, in another two devil horns.

In the hadiths are explained, that the signs they are shaved (bald). And this is a clear texts addressed to the followers of Muhammad ibn Abdul Wahab, because he had ordered his followers to shave every hair of his head to those who follow are not allowed to turn away from majlisnya before shaved bald.Things like this never happens in other heretical sects before. As has been said by Sayyid Abd Al-Ahdal:? Not need us to write the book to reject Muhammad bin Abdul Wahab, because it was fairly rejected by the hadiths of the Prophet Muhammad himself had insisted that their signs were shaved (bald), because experts bid? ah never done this before?. Al-Allamah Sayyid bin Ahmad bin AIwi Hasan bin Abdullah Al-Quthub AI-Haddad mentions in his book Jala? Udz Dzolam a hadith narrated by Abbas bin Abdul Muttalib, the Prophet SAW:? Will come out later in the twelfth century in a valley Barry Hanifa man, who acted like a bull (pride), her tongue licking her lips is always great, in those days a lot of turmoil, they justify the wealth of the Muslims, is taken to justify the trade and the blood of the Muslims? AI-Hadith.

Barry is the false prophet Hanifa Al-Kadzdzab Musailamah and Muhammad bin Saud. Later in the book is Sayyid AIwi suggests that people are not fooled others are Muhammad bin Abdul Wahab. As to the words of the Prophet SAW which suggests that there will be keguncangan from the east (Najed) and the two horns of the devil, in part, the scholars said that what is meant by the two horns of the devil was no other is Musailamah Kadzdzab Al-Wahab and Muhammad Ibn Abd.
Founder of this doctrine wahabiyah died in 1206 AH / 1792 AD, a scholar? record year with Alphabet count:? Ba daa halaakul khobiits? (It has been a real misery People Keji) (Masun Said Alwy)
read more

Movement history of Wahhabism

Movement history of Wahhabism
Wahhabism movement began its emergence in the Arabian peninsula in the 18th century with the fall of bloodshed and many casualties. Ironically, this occurred among the Muslims themselves. No wonder, because the doctrine of dogmatic, intolerant, very literal and rigid that brought this group has given birth to a total rejection of the other school of thought to the level of a blind, which takfiri doctrine, which considers the group as an infidel. On the basis of claims of purification, the purification of the teachings of Islam to return to the correct (according to their version), it allows resistance movement against all Muslims who are deemed incompatible with his teachings. Then split in Islam's body became inevitable. Islamic civilization was to be falling further behind because it is too preoccupied with internal problems that have been worn.

I. As the Wahhabi sect of Admitted

The term Wahhabi is not proclaimed by the founder or his followers, but it comes from people who are outside. The name derives from the doctrine of the framers of this doctrine, that Muhammad bin 'Abdul Wahhab (1115 H / 1703 AD - 1206 H / 1791 AD). Until now, the Wahhabi sect made official in Saudi Arabia, the respective ideologies dominate many aspects of life there.

This flow of his own followers called Wahhabis rejected, because from the beginning has been a stigma that gave birth to a bad impression, so they prefer the term Ahl al-Almohads or al-Tawhid, which means people who mentauhidkan God. But it was the name they use it to reflect a desire to use exclusively the principle of unity which is the basic foundation of Islam.According to Prof. Hamid Algar, there is no reason to accept a monopoly on the principle of unity, because this movement is the result of ijtihad of a young man who could really be too wrong.Thus, it is reasonable and customary to call "Wahhabism" and "Wahhabis". [1]

The followers of the Wahhabi claim that their purpose is solely to purify the tawhid. Tauhid have been mixed with purified for what they call as shirk, superstition, heresy, and superstition. Islam is full of historical baggage should be streamlined and cleaned by the Muslims return to the main teachings, Al-Quran and Al-Sunnah.

Wahhabism is a specific phenomenon, which must be considered as a separate school of thought or sect of its own.Observers, especially non-Muslims, many of which perform a brief description of their mistake by calling it extreme or conservative Sunni groups. Yet from the beginning, the Sunni scholars themselves think they are not part of the Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah. That's because almost all the practices, traditions, and beliefs that are an integral part of Sunni Islam, denounced by Muhammad bin 'Abdul Wahhab. That the Wahhabis are now regarded as a Sunni [2], it indicates that the term "Sunni" has given a very loose sense, the mere recognition of the legitimacy of the first four caliphs. Even the term Sunni is developing now no more mean "non-Shiites". [3] Therefore, the authors consider the Wahhabi sect or school of their own in Islam.

II. Wahhabism trip in History

Founder of the Wahhabi movement, Muhammad bin 'Abdul Wahhab, Tamim clan came from Hambali embracing schools, and strongly influenced by the writings of a scholar named Ibn Taymiyyah bermazhab Hambali who lived in the 14th century AD

Before becoming a preacher, he made many trips to different areas of the motive is not so clear [4]. Mecca, Medina, Baghdad and Basrah (Iraq), Damascus (Syria), Qum (Iran), Afghanistan and India is the region that he had visited. After traveling and studying in different cities, and then he brought the doctrines which are then used as the foundation of thought and belief, that will be considered problematic by the majority Sunni or Shiite.

Some researchers doubt the main motive of pure Wahhabism as a religious movement. They presented evidence that leads to such doubts. One is the evidence submitted by Dr. Abdullah Mohammad Sindi, a professor who came from Saudi Arabia. In a paper entitled "Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud" [5], he cites a memoir written by a British secret agent who nicknamed Hempher.

In the "Confession of a British Spy" [6], thus the title of the memoir, Hempher acknowledge the existence of a British conspiracy to destabilize the power of the Ottoman Empire (Ottoman) and to create conflict among Muslims.

Hempher pretending to embrace Islam was a long friendship with Muhammad bin 'Abdul Wahhab. Until finally melakukanbrainwash of Muhammad bin 'Abdul Wahhab, so as to assure him that most of the Muslims when it has deviated from the true teachings. And Muhammad bin 'Abdul Wahhab was voted man who can save Islam from deviations.

About the personality of Ibn Abdul-Wahhab, Hempher described it as an unstable, poorly mannered, nervous, arrogant, and stupid. [7]

If the memoir is true, then there is no doubt that the movement of Wahhabism since the beginning has been involved in a conspiracy organized by the colonial British. But because of some researchers who doubt the memoir by pointing out some peculiarities, it does not rule out the possibility that Wahhabism in the first movement is a religious movement. Although in the next stage, the intervention of England can not be denied anymore.

To attract a variety of analysis of a controversial movement, the author divides the history of Wahhabism in three periods:

First Period (1744-1818): Early Round Wahhabi-Saudi alliance

Huraymilah located in Najd, a region in the eastern part of the Arabian peninsula. This is where the propaganda of Ibn 'Abd al-Wahhab began after returning from his odyssey. His teaching experience harsh rejection from the local community, including from his own father and brother.

In this period, Ibn 'Abd al-Wahhab composed a simple little book entitled Kitab al-Tawhid, a poor referral intellectual weight, because in it there is no explanation that shows the building frame of mind of the writer. About this book, see the comments Prof. Hamid Algar:

Rather than describe the most fundamental doctrines of Islam as reflected in its title, the booklet only contains a collection of hadith without any comments, which are arranged in sixty-seven chapters.
......
Is more nearly correct to say this book and other works of Muhammad ibn 'Abd al-Wahhab was a student records.
......
It seems that the protective Wahhabism was embarrassed by the thinness of the work of Muhammad bin 'Abd Wahhab, so they looked at the work that needs to dipertebal size. [8]

After fourteen years of spreading his teachings, he returned to his birthplace, 'Uyaynah, which now has more favorable conditions. Local authorities, namely the 'Uthman ibn Mu'ammar extend its protection to Muhammad bin' Abd al-Wahhab and swear to be faithful to the understanding of monotheism preached by Ibn 'Abd al-Wahhab.

Protection authorities to Ibn 'Abd al-Wahhab became uncontrolled. He was increasingly outspoken mengkafirkan all Muslims are considered to heresy. He began to curse the various traditions and faith of the Muslims, and reject any interpretation of the Qur'an is considered deviant.

However this did not last long. Authorities at the time, 'Uthman ibn Mu'ammar, surrender to a powerful tribal leader in the region, so that in 1744 he expelled the new ruling that makes it move to Al-Dir'iyyah (still in Najd), the capital emirate Muhammad bin Sa'ud, which is actually hostile to the amir' Uyainah time. This is where Ibn 'Abdul Wahhab protection. Subsequently formed a permanent alliance that includes three aspects: political, religious, and marriage. In the political sphere, as amir Ibn Sa'ud gain religious legitimacy; in the field of religion Ibn 'Abdul Wahhab benefit from the appointment of a qadi and his doctrine is expressed as an official school, and the marriage of one of Ibn Sa'ud married the daughter of Muhammad bin' Abdul Wahhab.An alliance which is of course beneficial to both parties. Prof.Abdullah Mohammad Sindi says that the British once again took an active role in the framework of realization of the alliance.Through the support of money and weapons, the easier it is to incite their British alliance. [9]

This initial round of the birth of a theocratic state that would strictly control all forms of religious interpretation, especially in Saudi Arabia.

Muhammad bin Saud and then publicly declare its acceptance of different ideas and religious views Muhammad bin Abdul Wahhab. Year 1159 H / 1746 AD, the Wahhabi-Saudi alliance make a formal declaration of jihad against all those who are not in line with the understanding of the tawhid of Wahhabism, the people who are regarded as infidels, idolaters, and apostates.First they attacked the Shiite sect, then the mystics, then started attacking Sunnis. All schools that do not follow them are considered infidels and kosher blood.

In the past 10 years, the alliance grew rapidly to become the dominant force in the Arabian peninsula. Muhammad bin Sa'ud turf growing area of ​​30 square miles. [10]

In 1206 H / 1791 AD, not long after the clash with the ruler of Medina, Muhammad bin 'Abdul Wahhab died. But this does not reduce the motivation to do the conquest and slaughter. In fact, their power grows bigger.

In April 1801, they massacred the Shiites in Karbala, carrying 4000 people were slaughtered in inhumane conditions. They are brutally destroyed the tomb of Imam Husain in there. In 1810 they killed innocent people in the Arabian peninsula. In Makkah they were looting the people who perform the pilgrimage. At Medina they were attacked and desecrated the mosque and tomb of the Prophet.

Realizing that the greater the force, then the next goal is to escape from the Ottoman Empire. It did not take long, successful expansion of Wahhabi Caliphate cause instability in the region, especially in the Arabian Peninsula, Iraq and Sham.

Second Period (1818-1932): Defeat and the New Awakening

The Wahhabi occupation force Haramain official heir to the Caliphate, the Ottoman Empire, to act decisively. Moreover, the various acts of terror being waged Wahhabi groups that have aroused the anger of the Muslim world. To follow up, Istanbul to send Egyptian troops to quell the movement. In 1818 AD, Ibrahim Pasha of Egypt defeated the Wahhabis. Dir'iyyah was razed to the ground. Abdullah al-Sa'ud, amir then, along with two of his followers brought to Istanbul. Publicly beheaded. Some were taken to Cairo to be detained there. This is a lesson that the Ottoman Empire wanted to show to people who combine with the political ambitions of religious aberrations.

The defeat left the Wahhabis make the burning flames of hostility towards other Muslim groups. But ironically, the closer to the colonial British. This is seen as the year 1851, Faisal Ibn Turki al-Saud who previously escaped from custody in Cairo, again asked for British support. As a follow-up that relationship, in 1865 the British sent Colonel Lewis Pelly to Riyadh to make an agreement.

At the beginning of the 20th century, when British forces and the increasingly successful strategy to undermine the Ottoman Caliphate, back when it's Wahhabi leader, Abdul 'Aziz, was used. Again, the Wahhabi terror group re-done. Reportedly, about 1200 people who defied brutally massacred. [11]

Thanks to support England, slowly but surely the Wahhabi-Saudi alliance under the leadership of Abdul 'Aziz had conquered almost the entire Arabian Peninsula. Peak, in 1932 formed the kingdom of Saudi Arabia. This period marked the rise of Wahhabi-Saudi alliance new.

Third Period (1932-Present): New Patron and the weakening of the bond

This period was marked by the acquisition of the oil wealth and the transition from England to America as their main foreign patron. This alliance re-used special instruments to American interests and allies in the Middle East.

Through the disbursement of petrodollar, in recent decades and Wahhabismenya Arabia seeks not only eliminate the stigma attached to him, but also dramatically trying to improve self-image in the Islamic world. Therefore, Wahhabism has been presented as a reformist movement that aims solely to perform body purification in Islam. The founder, Muhammad Ibn Abdul-Wahhab was a reformer who appear as characters have managed to purify Islam from a variety of stains.

Embarrassing things that the spotlight of the world was trying to be eliminated. Discrimination against women as third class citizens increasingly reduced. But the sectarian issues concerning the poor treatment of minority sects, especially Shiites, still ongoing. [12]

But over time, symptoms of weakening the bond between the Wahhabi religious groups and the Saudi family became more obvious. The main trigger is the rampant corruption, hedonistic lifestyle, as well as from the appearance of symptoms of secularization. A small number of people began to dare to criticize and dare to reveal the distortions of the Saudi regime.

Uprising in Mecca in November 1979, led by Muhammad Juhaiman 'Uteybi, a former Saudi National Guard Corporal, be an early warning of disappointment in some circles of the Saudi kingdom. Mastered by a group of armed Haram quite shocked the world. Political turmoil broke out. Then the Americans and Europeans together to help the Saudi government to restore the situation in the Holy Land. [13]

1991 Gulf War and the expansion of the U.S. presence making wide gap between the Wahhabis and the Saud regime.

While the Saudi government more intimate with the U.S., Wahhabi clerics actually think the U.S. and its allies are enemies to be combated. So people ask, if so, where Wahhabi clerics when American ravaged Iraq, when Israel strikes Hezbollah held for 33 days, as well as ongoing genocide against the Palestinian people until now? The answer is simple: to help fight illegal people who are not seakidah with them. [14] It also led to the Saudi royal half-heartedly when supporting America's troops attack Taliban in Afghanistan which Wahhabi sensible postscript.

So when the World Trade Center in New York was destroyed on September 11, 2001, Wahhabi clerics called 'Abdullah bin Jibrin issued a fatwa that not only justify the attack on the WTC, but also condemned heretics and Muslims who collaborate with the United States, a category which obviously included the Saudi royal family. [15] But nonetheless, there are many ranks of Wahhabi clerics who remained loyal to the Saudi regime.

III. Salafism: The New Face of Wahhabism?

There is a rather vague understanding between Wahhabism and Salafism, whether they are the same or different. Because, the Wahhabis are often on behalf of themselves as As-Salaf.However, if viewed from the historical categorization, there is a difference between the two.

In response to various developments in the Islamic world, in association with the increasing breadth of the Western imperialist domination, there was a reformer figures like Jamal al-Din al-Afghani, Muhammad 'Abduh, Rashid Rida, followed by the Muslim Brotherhood, and brevity forwarded by the various figures and known as the Salafi movement.

Among the figures above reformer, Rashid Rida known most fundamentalist and conservative. As Ibn Abdul Wahhab, was a direct reference to the past and the pious predecessors (al-Salaf al-Salih), therefore they are referred to as the Salafi movement.However, unlike Wahhabism, the movement is trying to reconcile the ideas of "modern" Islam and find (and interpret) return the virtues which they found in religion. [16]

Due to the political situation in the Arab world, the 1960's created a closer relationship between the Salafi and Wahhabi occurs when the cold war between the camp of Egypt and Saudi Arabia. Under the umbrella organization of Muslim World League of Saudi Arabia was formed in 1962, closer links between the Salafis and Wahhabis materialized. The members of the Muslim Brotherhood in Egypt (and later in Syria) is almost hard to blame if they get closer to Saudi Arabia, given the attacks they received in their own country. Though their concern is reasonable, that is increasingly concerned with the grip of foreign imperialism. Maybe that's why people with the Salafi trend as Rashid Rida, who with a feeling of disappointment was looking for a hero, from sympathetic to Wahhabism.

In the midst of a transformation of Islam that developed in the Middle East, one of the known patterned hard fruit is born from the thought of Sayyid Qutb (w.1960). Initially, he described the condition of contemporary society as a neo-Jahiliyyah, but was later interpreted by the flow of radical Islamists who are younger and more extreme in Egypt (and in some places in the Middle East). The most serious implication which has been elaborated is the concept of takfir. Nominal Muslims (Islam "ID") has become an infidel and therefore potentially allowed to be killed. [17]

Radical character that's probably what makes some people equate Salafism with Wahhabism. Indeed, Salafism has some similarities with the religious views of Wahhabism, but the difference is quite striking. As for the distinction is as follows:
Salafi persuasion rather than coercion is more emphasized in order to invite Muslims to accept their views.
Salafis have the awareness and knowledge about political and social crisis-hit economies of the Islamic world.
Salafi reconcile modern ideas with the Islamic values.

Distinction can be drawn on when-once again-term Salafism historically associated with categorization as previously noted.Given the rather vague at this time to distinguish between them, especially those growing in Indonesia.

IV. The doctrine of Wahhabism at a glance

After describing the history of Wahhabism, it is important to mention a little teaching their main doctrines.

Previous history of exposure, can actually read what their teaching style. However in this section the author will try to summarize it, adding a few points that the authors consider important.

The Wahhabis, like its founder, are the ones who think highly linear, literal, rigid, and highly denotative in understanding the verses of the Qur'an and the Hadith. Generally, they refused to Majaz (metaphor). For them, all these innovations were misled and misguided it all go to hell. So that innovation is just a euphemism, euphemism for 'infidel'. [18]

They also reject the existence of art and culture in Islam, and not concerned with Islamic heritage. Therefore, the historic sites of Islam as the birthplace of the Prophet's house, the house of Khadija Umm Mu'minin, as well as the residence of the Prophet destroyed. In fact, according to Shaykh Ja'far Subhani, originally Muhammad ibn 'Abdul Wahhab focused its efforts only to destroy the graves only, not to destroy any relics left by the Prophet and his noble companions. But his followers have now expanded his business by culling any Islamic heritage, on the pretext of expansion of both shrines, Mecca and Medina. [19] This is very unfortunate and it is important to note that Muslims around the world.

Day by day, Muslims are increasingly experiencing problems accumulate. But the Wahhabis, the main issue Muslims lies in the issue of monotheism, in which they divide into three parts: [20]

1). Tawheed al-Rububiyyah

This monotheism implies the recognition that only God alone who has the nature of the rabb, the lord and creator of the world, which turn on and off. Tawheed is that with just a verbal acknowledgment alone is not sufficient to achieve quality as a Muslim.

2). Asma al-Tawhid wa al-Nature

Implies only confirmed the name and properties mentioned in the Qur'an. Not allowed to apply these names to anyone other than God. This is a repetition of what was formulated by Ibn Taymiyyah who criticized the anthropomorphism.

3). Tawheed al-'Worship

Implies that all worship is addressed only to God. Tawheed is what is considered the most important, the limit firmly between Islam and kufr, between monotheism and polytheism. Here Tawheed al-'ibâdahdidefinisikan negatively, in the sense of avoiding certain practices, not in the affirmative. This is the result of fear of what is regarded as aberrations. This helps explain why Wahhabism has a very strong character. [21] Thus all forms of tawassul, ziyarah, tabarruk, syafâ'ah, to practices that have become tradition in the case of Sunni and Shia Islam's birthday, is considered a violation of Tawheed al-'worship.

In view of the Wahhabi heresy was divided into two: 1). Heresy in the customs and traditions; 2). Heresy in religion. The first heresy laws permissible / allowed, while the second illegitimate and misguided. The second heresy is further subdivided into two: heresy and heretics qawliyyah i'tiqadiyyah fi al-'worship.

For Wahhabis, the Shiites, Sufis, and most of the Sunnis have been doing a good heresy heresy and heretics qawliyyah i'tiqadiyyah fi al-'worship. Thus it should (even must) be fought.

V. Reflection

Wahhabism in the beginning it was a purely religious movement of the ideas of a young man in response to the diversity of local practices that tarnish the purity of Islam is seen. That he then used as a tool by the British for plug hegemony, this is another thing that is undeniable, historical evidence suggests so. But to say that from the beginning had been arranged by the British, requiring evidence that stronger again. The memoir 'Confessions of a British Spy' is not strong enough as evidence because they contain some anomalies, though still worth reading for the 'touch' the situation as it Arabian peninsula.

If only the Wahhabi-Saudi alliance did not have the wealth of huge oil reserves, may only scratched Wahhabism movement in recorded history as an intellectual movement that is thought to be marginal and short-lived. But good fortune as a country capable of making their fortune exist to this day. They have a strong capital so as to spread the understanding of Wahhabism in the Islamic world, down to Indonesia. [22] And the spread of Wahhabism in Indonesia is quite rapid. This is one reason why Indonesia is often referred to as the previous example par excellence of the Muslim community that is soft and cool, gradually radicalized under the influence of ideology and culture outside.

Characteristics of a highly rigid Wahhabism has come to kill the tradition of dialectics that characterizes the Islamic civilization for centuries. Concrete example can be found in Mecca and Medina. It is unfortunate that the Haramain who had been for centuries the center of the intellectual world of Islam, in the hands of Wahhabi ends. There's hardly anything left except the institutions that preach Wahhabism is absurd given the label of the University. Whereas intellectual activity determines the development of civilization of a nation. While still in the hands of Wahhabi power, it is difficult to restore Mecca and Medina to the early days when the city was still the center of the development of science in the Islamic world.

Induced expansion of Wahhabism also touches aspects of arts and culture. Facts found now, hardly any cultural and artistic heritage of Islam in Saudi Arabia. Then it becomes a serious threat when they succeeded in exporting their respective ideologies to successfully suppress art and culture which is the local content of a region.

It is difficult to accept when Wahhabism refused to cultural diversity and appreciation of art. Since time immemorial the art and cultural diversity in Islam is so rich, very colorful expression.Even in the Sufi view, art is a manifestation of divine beauty that is able to excite spiritualism.

Another highlight in the spotlight is the issue of Islamic unity.Radical ways in which they traveled has led to counterproductive actions. Islamic unity that had been kept intact by various groups, Sunni or Shia are seriously threatened due to the narrow view of the Wahhabis, who unfortunately again, easy to provoke, a tool used by the enemies of Islam.

There have been many scholars, both Muslim and non-Muslims, who are concerned about the negative implications of the expansion of Wahhabism. They are quite prolific producing scientific work to unravel the dark history of Wahhabism.Unfortunately, this issue is not something that appeals to the majority of our society. Then the result of negligent attitude, no wonder if you know Wahhabism easily get into the schools to the university. [23]

Puzzling why the students might be interested in the views of Wahhabism. But the attraction it may be reasonable, considering the students familiar with the rationalistic world view that is driven by their studies in technology, engineering and natural sciences.Then they found in the Islamic Wahhabism there are (as) has been rationalized, that is Islam that has been cleared of theological complexity and the complexity of Sufism, which is assessed in addition to belonging to heresy. In short, they find that Islam is presented in a simple form and "black-white" for them.

It should be noted that not all of Wahhabism and Salafism that is now agreed by violent means. This is in line with the dynamics of life, the spectrum formed is becoming increasingly wide and spawned a new categorizations. In this case, as long as they do not use violent means, their mission can not be blamed. Thus this becomes a big PR for us to try to present the religious sciences "original" as the menu is inviting young people early on.Therefore, they could be easily indoctrinated by the teachings of Wahhabism is because most of them do not realize how truly Islamic scientific ocean is so vast and fascinating. []

[1] Algar, Hamid. Wahhabism, A Critical Review, London: Paramadina, 2008, p 28

[2] The Wahhabis themselves consider them as representations of the Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah.

[3] Algar, Hamid, op. cit., p 30

[4] Hamid Algar looked at the journey motif of Ibn 'Abd al-Wahhab is still a question mark. Other historians say on business or just have fun. Some say the motive was to gain knowledge journey.

[5] Abdullah Mohammad Sindi, Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud, e-Bulletin Vol.IV 16 January 2004, www.kanaanonline.org

[6] Although the record or a book called Confessions of a British Spy apocryphal by some, including Prof. Hamid Algar, but quite worth reading to find out the picture of the situation in Arabia at that time.

[7] Waqf Ikhlas, Confession of a British Spy, Istanbul: Waqf Ikhlas Publications No.14, Eight Edition, 2001

[8] Algar, Hamid, op. cit., p 30, 44, 45, 47

[9] Dr. Abdullah Mohammad Sindi, op. cit.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] International Crisis Group, in the journal dated 19 September 2005, reported that the intimidation of minority Shi'ites continue, even in schools teachers mengkafirkan Shiites openly in front of their students. Not to mention the fatwa Wahhabi clerics who openly justify the blood of the Shiites.

[13] Trofimov, Yaroslav, Coup Mecca, eBooks, Library

[14] This issue can be checked on a website Wahhabi / Salafi both outside and inside the country. For example: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1086

[15] Algar, Hamid, op.cit., P 119

[16] Fealy, Greg and Anthony Bubalo, caravan trail, Effect of Middle East radicalism in Indonesia, Bandung: Mizan, 2007, p 32

[17] Ibid, p 41

[18] Mohsen Labib, Wahhabism and 'Theology

[19] Subhani, Jafar, Al-Milal wa al-Nihal, Thematic Studies School Kalam, Pekalongan: Al-Hadi Publishing, 1997, p 363

[20] Algar, Hamid, op.cit., P 69

[21] Ibid, p 72

[22] Greg Fealy and Anthony Bubalo in his book, The caravan trail, said that the three organizations in Indonesia in particular receives significant funding from Saudi Arabia. They are DDII, Al-Irsyad, and Exact. (Fealy, Greg and Anthony Bubalo, caravan trail, New York: Mizan, 2007)
read more
Design by Faham Wahabi Visit Original Post Ahlus Sunnah Wal Jama'ah