Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan

Apakah Allah berada di Langit?

Pada tahun 2009, saya pernah terlibat perdebatan sengit dengan seorang Ustadz Salafi berinisial AH di Surabaya. Beberapa bulan berikutnya saya berdebat lagi dengan Ustadz Salafi di Blitar. Ustadz tersebut berinisial AH pula, tetapi lain orang. Dalam perdebatan tersebut saya bertanya kepada AH: “Mengapa Anda meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit?”

Menanggapi pertanyaan saya, AH menyebutkan ayat-ayat al-Qur’an yang menurut asumsinya menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit. Lalu saya berkata: “Ayat-ayat yang Anda sebutkan tidak secara tegas menunjukkan bahwa Allah ada di langit. Karena kosa kata istawa, menurut para ulama memiliki 15 makna. Di samping itu, apabila Anda berargumentasi dengan ayat-ayat tersebut, maka argumen Anda dapat dipatahkan dengan ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit. Misalnya Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4). Ayat ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala bersama kita di bumi, bukan ada di langit. Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:
وَقالَ إِنِّيْ ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
الصافات : ٩٩

“Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberiku petunjuk.” (QS. al-Shaffat : 99).

Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim alaihissalam berkata akan pergi menuju Tuhannya, padahal Nabi Ibrahim alaihissalam pergi ke Palestina. Dengan demikian, secara literal ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala bukan ada di langit, tetapi ada di Palestina.” Setelah saya berkata demikian, AH tidak mampu menjawab akan tetapi mengajukan dalil lain dan berkata: “Keyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِلْجَارِيَةِ السَّوْدَاءِ: أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: رَسُوْلُ اللهِ. قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ. رواه مسلم.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang budak perempuan yang berkulit hitam: “Allah ada di mana?” Lalu budak itu menjawab: “Allah ada di langit.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya; “Saya siapa?” Ia menjawab: “Engkau Rasul Allah.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada majikan budak itu, “Merdekakanlah budak ini. Karena ia seorang budak yang mukmin.” (HR. Muslim).”

Setelah AH berkata demikian, saya menjawab begini: “Ada tiga tinjauan berkaitan dengan hadits yang Anda sebutkan. Pertama, dari aspek kritisisme ilmu hadits (naqd al-hadits). Hadits yang Anda sebutkan menurut para ulama tergolong hadits mudhtharib (hadits yang simpang siur periwayatannya), sehingga kedudukannya menjadi lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah. Kesimpangsiuran periwayatan hadits tersebut, dapat dilihat dari perbedaan setiap perawi dalam meriwayatkan hadits tersebut. Ada yang meriwayatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bertanya di mana Allah subhanahu wa ta‘ala. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, apakah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah.

Kedua, dari segi makna, para ulama melakukan ta’wil terhadap hadits tersebut dengan mengatakan, bahwa yang ditanyakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya adalah bukan tempat, tetapi kedudukan atau derajat Allah subhanahu wa ta‘ala. Lalu orang tersebut menjawab kedudukan Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit, maksudnya Allah subhanahu wa ta‘ala itu Maha Luhur dan Maha Tinggi.

Ketiga, apabila Anda berargumen dengan hadits tersebut tentang keyakinan Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit, maka argumen Anda dapat dipatahkan dengan hadits lain yang lebih kuat dan menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit, bahkan ada di bumi. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَحَكَّهَا بِيَدِهِ وَرُؤِيَ مِنْهُ كَرَاهِيَةٌ وَقَالَ: إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِيْ صَلاَتهِ فَإِنَّمَا يُنَاجِيْ رَبَّهُ أَوْ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ قِبْلَتِهِ فَلاَ يَبْزُقَنَّ فِيْ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau menggosoknya dengan tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.” (HR. al-Bukhari [405]).

Hadits ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di depan orang yang sedang shalat, bukan ada di langit. Hadits ini jelas lebih kuat dari hadits riwayat Muslim, karena hadits ini riwayat al-Bukhari. Setelah saya menjawab demikian, AH juga tidak mampu menanggapi jawaban saya. Sepertinya dia merasa kewalahan dan tidak mampu menjawab. Ia justru mengajukan dalil lain dengan berkata: “Keyakinan bahwa Allah ada di langit itu ijma’ ulama salaf.” Lalu saya jawab, “Tadi Anda mengatakan bahwa dalil keyakinan Allah ada di langit, adalah ayat al-Qur’an. Kemudian setelah argumen Anda kami patahkan, Anda beragumen dengan hadits. Lalu setelah argumen Anda kami patahkan lagi, Anda sekarang berdalil dengan ijma’. Padahal ijma’ ulama salaf sejak generasi sahabat justru meyakini Allah subhanahu wa ta‘ala tidak bertempat. Al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi berkata dalam al-Farqu Bayna al-Firaq:
وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّهُ لاَ يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلاَ يَجْرِيْ عَلَيْهِ زَمَان

“Kaum Muslimin sejak generasi salaf (para sahabat dan tabi’in) telah bersepakat bahwa Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh waktu.” (al-Farq bayna al-Firaq, 256).

Al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi juga berkata dalam al-’Aqidah al-Thahawiyyah, risalah kecil yang menjadi kajian kaum Sunni dan Wahhabi:
وَلاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِتُّ

“Allah subhanahu wa ta‘ala tidak dibatasi oleh arah yang enam.”

Setelah saya menjawab demikian kepada AH, saya bertanya kepada AH: “Menurut Anda, tempat itu makhluk apa bukan?” AH menjawab: “Makhluk.” Saya bertanya: “Kalau tempat itu makhluk, lalu sebelum terciptanya tempat, Allah ada di mana?” AH menjawab: “Pertanyaan ini tidak boleh, dan termasuk pertanyaan yang bid’ah.” Demikian jawaban AH, yang menimbulkan tawa para hadirin dari semua kalangan pada waktu itu. Kebetulan pada acara tersebut, mayoritas hadirin terdiri dari kalangan Salafi, anggota jamaah AH.

Demikianlah, cara dialog orang-orang Wahhabi. Ketika mereka tidak dapat menjawab pertanyaan, mereka tidak akan menjawab, aku tidak tahu, sebagaimana tradisi ulama salaf dulu. Akan tetapi mereka akan menjawab, “Pertanyaanmu bid’ah dan tidak boleh.” AH sepertinya tidak mengetahui bahwa pertanyaan Allah subhanahu wa ta‘ala ada di mana sebelum terciptanyan alam, telah ditanyakan oleh para sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkata kepada mereka, bahwa pertanyaan tersebut bid’ah atau tidak boleh. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ إِنِّيْ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِذْ دَخَلَ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالُوْا: جِئْنَاكَ لِنَتَفَقَّهَ فِي الدِّيْنِ وَلِنَسْأَلَكَ عَنْ أَوَّلِ هَذَا اْلأَمْرِ مَا كَانَ. قَالَ: كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ
رواه البخاري

“Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata: “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. al-Bukhari [3191]).

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak bertempat. Allah subhanahu wa ta‘ala ada sebelum adanya makhluk, termasuk tempat. Al-Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dalam al-Sunan berikut ini:
عَنْ أَبِيْ رَزِيْنٍ قَالَ قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ ؟ قَالَ كَانَ فِيْ عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَخَلَقَ عَرْشَهُ عَلىَ الْمَاءِ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ مَنِيْعٍ قَالَ يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ الْعَمَاءُ أَيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ قَالَ التِّرْمِذِيُّ وَهَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ.

“Abi Razin radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertainya. Di atasnya tidak ada sesuatu dan di bawahnya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan Arasy di atas air.” Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, maksud hadits tersebut, Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertai (termasuk tempat). Al-Tirmidzi berkata: “hadits ini bernilai hasan”. (Sunan al-Tirmidzi, [3109]).

Dalam setiap dialog yang terjadi antara Muslim Sunni dengan kaum Wahhabi, pasti kaum Sunni mudah sekali mematahkan argumen Wahhabi. Ketika Wahhabi mengajukan argumen dari ayat al-Qur’an, maka dengan mudahnya dipatahkan dengan ayat al-Qur’an yang lain. Ketika Wahhabi mengajukan argumen dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pasti kaum Sunni dengan mudahnya mematahkan argumen tersebut dengan hadits yang lebih kuat. Dan ketika Sunni berargumen dengan dalil rasional, pasti Wahhabi tidak dapat membantah dan menjawabnya. Keyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada tanpa tempat adalah keyakinan kaum Muslimin sejak generasi salaf, kalangan sahabat dan tabi’in. Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَانَ وَهُوَ اْلآَنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ

“Allah subhanahu wa ta‘ala ada sebelum adanya tempat. Dan keberadaan Allah sekarang, sama seperti sebelum adanya tempat (maksudnya Allah tidak bertempat).” (al-Farq bayna al-Firaq, 256).

Dikutip dari “Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi” karya Ust. Muhammad Idrus Ramli, alumni Pondok Pesantren Sidogiri tahun 1424/2004.


read more

Orang Yang Bisa Memberi Syafa’at




فإنها ثابتة للمصطفى** كغيره من كل أسباب الوفا

Maka sesungguhnya syafaat adalah sudah ditetapkan bagi al-Mushthofa ** Sebagaimana telah ditetapkan juga bagi selainnya dari setiap orang-orang yang telah menjalankan perintah Allah.

من عالم كالرسل والأبرار **سوى التي خصت بذي الأنوار

Dari orang2 Alim sebagaimana para Rasul, orang2 pilihan yang bertaqwa** Selain yang telah dikhususkan kepada orang2 yang memiliki cahaya.

وأخرج سعيد بن منصور والبيهقي ، وهناد عن أنس – رضي الله عنه – قال :من كذب بالشفاعة فليس له فيها نصيب.

Syaikh Sa’id bin Manshur, imam al-Baihaqi, syaikh Hanad telah mentakhrij hadits dari sahabat Anas radliyallahu’anh, bahwasanya beliau berkata: “Barangsiapa yang mendustakan syafaat maka mereka tidak akan mendapatkan bagian dari syafaat tersebut”.

وأخرج البيهقي عنه أنه قيل له : إن قوما يكذبون بالشفاعة ، قال : لا تجالسوا أولئك .

Imam al-Baihaqi telah mentakhrij hadits dari beliau juga (sahabat Anas) bahwasanya dikatakan kepada beliau; “Sesungguhnya ada kaum yang mendustakan syafaat”, lalu beliau berkata; “Janganlah kamu sekalian duduk dengan kaum tersebut”.

Wajib meyakini bahwasanya orang-orang yang selain Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam BISA MEMBERI SYAFAAT yaitu dari para Rusul, Ambiya’, Malaikat, Shohabat, Syuhada’, ash-Shiddiquun, Auliya’ (para wali) sesuai dengan derajat dan tingkatan mereka masing2 di sisi Allah.

“أنا أول شافع ، وأول مشفع” روى هذا اللفظ أبو هريرة – رضي الله عنه – رواه مسلم ، وجابر بن عبد الله – رضي الله عنهما – أخرجه البيهقي ، وعبد الله بن سلام – رضي الله عنه

Aku adalah orang yang pertama kali memberikan syafaat dan aku adalah orang yang pertama kali yang diterima syafaatnya. Sahabat Abi Hurairah radliyahu’anh telah meriwayatkan hadits yang redaksinya demikian, hadits ini diriwayatkan oleh imam Muslim, imam Jabir bin Abdillah radliayallahu’anhuma juga diriwayatkan oleh imam al-Baihaqi dan syaikh Abdullah bin Salam radliayallahu’anhuma.

وأما حديث ابن مسعود – رضي الله عنه – عند البيهقي قال :يشفع نبيكم رابع أربعة جبريل ثم إبراهيم ثم موسى ثم عيسى ثم نبيكم ، لا يشفع أحد في أكثر مما يشفع فيه نبيكم ، ثم الملائكة ، ثم النبيون ، ثم الصديقون ، ثم الشهداء .

قال البخاري : كذا قال أبو الزعراء : عن ابن مسعود ، ولا يتابع عليه ، والمشهور أنه – صلى الله عليه وسلم – أول شافع ، وكذا قال غير البخاري من أئمة الحفاظ ، والله أعلم

Adapun hadits sahabat Ibnu Mas’ud radliyallahu’anh menurut imam al-Bahaqi beliau berkata; “Nabimu akan mensyafaati setelah keempat dari empat orang; (yaitu) Jibril, Ibrahim, Musa, dan Isa, lalu Nabi kalian. Tidak ada seorang pun yang mensyafaati lebih banyak dari yang disyafaati oleh Nabi kalian, kemudian malaikat, kemudian Ambiya’, kemudian para ash-Shiddiqun, kemudian para Syhuhada”.

Imam al-Bukhrai menyampaikan; Seperti inilah yang disampaikan oleh Abu az-Za’raa’ dari Ibnu Mas’ud dan tidak ada yang mengikuti beliau (dalam redaksi seperti ini). Yang Mashur adalah bahwasanya Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang pertama kali member syafaat, seperti inilah yang disampaikan oleh imam al-Bukhari dari berbagai Imam pengahfal hadits. Wallahu’Alam.

وأخرج ابن ماجه ، والبيهقي عن عثمان بن عفان – رضي الله عنه – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال :

يشفع يوم القيامة الأنبياء ، ثم العلماء ، ثم الشهداء ” وأخرجه البزار ، وفي آخره ” ثم المؤذنون ” .

Imam Ibnu Majjah imam al-Baihaqi telah mentakhrij hadits dari khalifah Utsman bin Affan radliyallahu’anh dari Nabi shalallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Yang akan mensyafaati kelak di hari kiyamat adalah para Nabi, kemudian para Ulama, kemudia para Syuhada”. Imam al-Bazzar meriwyatkan pada akhir dari redaksi hadits ini; “kemudian para Muadzin”.

وأخرج الطبراني في الكبير ، والبيهقي عن ابن مسعود – رضي الله عنه – قال :

قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم : ” ليدخلن الجنة قوم من المسلمين قد عذبوا في النار – برحمة الله ، وشفاعة الشافعين ” ، وأخرجه الإمام أحمد ، والبيهقي من حديث حذيفة ونحوه ،

Imam ath-Thabrani telah mentakhrij hadits dalam kitab al-Kabir dan imam al-Baihaqi dari sahabat Ibnu Mas’ud radliyallahu’anh, beliau berkata: Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda;

“Sungguh akan dikeluarkanlah orang2 muslim setelah disiksa dineraka dengan rahmat Allah serta SYAFATNYA ORANG-ORANG YANG (diberi izin oleh Allah) MEMBERIKAN SYAFAAT”. Hadits ini juga ditakhrij oleh imam Ahmad dan imam al-Baihaqi dari haditsnya Hudzifah dan sejenisnya.

وأخرج الطبراني في الأوسط عن أنس – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم : ” يشفع الله آدم يوم القيامة من جميع ذريته في مائة ألف ألف ، وعشرة آلاف ألف “

Imam ath-Thabrani telah mentakhrij hadits dalam kitab al-Ausath dari sahabat Anas radliyallahu’anh beliau berkata; Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda; “Allah memberi izin kepada nabi Adam pada hari kiyamat seluruh keturunannya yang berjumlah seratus juta dan sepuluh juta”.

وأخرج ابن أبي عاصم ، والأصفهاني عن أبي أمامة رضي الله عنه قال :قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم : ” يجاء بالعالم والعابد ، فيقال للعابد : ادخل الجنة ، ويقال للعالم : قف حتى تشفع للناس ” . وأخرج البيهقي من حديث جابر مثله

Syaikh Ibnu Abi Ashim dan imam al-Ashfahani telah mentakrij hadits dari sahabat Abi Umamah radliyallahu’anh beliau berkata; Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda; Orang Alim dan orang Ahli ibadah akan di datangkan, kemudian dikatakan pada Abid, “Masuklah kamu ke surga”, dan dikatakan kepada orang Alim, “Berhentilah dulu sehingga engkau mensyafaati para manusia”. Imam al-Baihaqi telah mentakhrij hadits dari sahabat Jabir yang mirip dengan hadits ini.

وأخرج الديلمي من حديث ابن عمر – رضي الله عنهما – مرفوعا ” يقال للعالم : اشفع في تلامذتك ، ولو بلغ عددهم نجوم السماء ” .

Imam ad-Dailami telah mentakhrij hadits dari sahabat Ibnu Umar radliyallahu’anhuma secara marfu’; dikatakan kepada seorang yang Alim; “Syafaatilah murid-muridmu walaupun jumlah mereka sampai dengan jumlahnya bintang-bintang di langit”.

وأخرج أبو داود ، وابن حبان عن أبي الدرداء : سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول :

” الشهيد يشفع في سبعين من أهل بيته ” وأخرج الإمام أحمد ، والطبراني مثله من حديث مقدام بن معدي كرب

Imam Abu Dawud dan imam Ibnu Hiban telah mentakhrij hadits dari sahabat Abi Darda’; Saya mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda; “Orang2 yang mati syahid akan bisa mensyafaati tuju puluh orang dari keluarganya”. Imam Ahmad dan imam ath-Thabrani telah mentakhrij hadits yang mirip dengan hadits ini dari hadits Muqoddam bin Ma’di Karib.

وأخرج الترمذي والحاكم وصححاه ، والبيهقي عن عبد الله بن أبي الجدعاء ، سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : ” ليدخلن الجنة بشفاعة رجل من أمتي أكثر من بني تميم ” ، قالوا : سواك يا رسول الله ؟ قال : سواي ” قال الفريابي : يقال : إنه عثمان بن عفان – رضي الله عنه .

Imam at-Tirmidzi dan imam al-Hakim telah mentakhrij hadits dan mensohihkannya juga imam al-Baihaqi dari sahabat Abdullah bin Abi al-Jad’aa’; saya mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda; “Sungguh akan masuk surge dengan syafaat seorang laki-laki dari kalangan umatku orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bani tamim”, kemudian para sahabat bertanya pada Nabi; “Apakah seorang laki2 tsbt adalah selain Engkau ya Rasulallah?, kemudian Nabi menjawab; “Selain diriku”. Al-Faryabi menyatakan; “dikatakan seorang laki2 tersebut adalah Utsman bin Affan radliyallahu’anh”.

وأخرج الترمذي وحسنه والبيهقي عن أبي سعيد الخدري – رضي الله عنه – قال :قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم : ” إن من أمتي لرجالا يشفع الرجل منهم في الفئام من الناس فيدخلون الجنة بشفاعته ، ويشفع الرجل منهم للقبيلة فيدخلون الجنة بشفاعته ، ويشفع الرجل منهم للرجل وأهل بيته فيدخلون الجنة بشفاعته ” .

Imam at-Tirmidzi telah mentakhrij hadits dan menganggapnya hasan, juga imam al-Baihaqi dari sahabat Abi Sa’id al-Khudlri radliyallahu’anh beliau berkata; Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya dari kalangan umatku terdapat banyak laki-laki yang seorang laki2 dari mereka bisa mensyafaati sekelompok manusia dan mereka semua masuk surga dengan syafaat seorang laki2 tersebut, seorang laki2 lain dari mereka bisa mensyafaati sekelompok besar (kabilah) kemudian mereka semua masuk surga dengan syafaat seorang laki2 tsbt. Seorang dari mereka bisa mensyafaati keluarganya sehingga mereka semua masuk surga dengan syafaat seorang laki2 tsbt”.

Tulisan ini disarikan dari kitab Lawami’ al-Anwar al-Bahiyyah wa Sawathi’ al-Asrar al-Atsariyyah karya syaikh al-Imam Muhammad as-Safarayini al-Hambali.
read more

tafsir QS Al-Mulk ayat16

Mewaspadai Akidah Kaum Musyabbihah Wahhabi

Yang dimaksud dari firman Allah dalam QS. Al-Mulk: 16 adalah:

ءَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَآءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ اْلأَرْضَ (الملك)

Seluruh ayat-ayat mutasyabihat dan hadits-hadits mutasyabihat yang zhahirnya seakan Allah berada di langit, atau seakan berada di atas langit dengan jarak antara Allah dan langit itu sendiri, maka teks-teks tersebut harus ditakwil; tidak boleh dipahami secara zhahirnya. Di antaranya, firman Allah: ”A-amintum Man Fi as-Sama’” (QS. al-Mulk: 16), bahwa yang dimaksud dengan “Man Fi as-Sama’” adalah para Malaikat. Takwil ini sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Imam al-Hafizh al-Iraqi dalam penafsiran beliau terhadap hadits yang berbunyi:

ارْحَمُوْا مَنْ فِي الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السّمَاء (رواه الترمذي)

Al-Hafizh al-Iraqi menafsirkan hadits ini dengan hadits riwayat lainnya yang berasal dari jalur sanad Abdullah ibn Amr ibn al-Ash, dari Rasulullah, bahwa Rasulullah bersabda:

الرّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرّحِيْمُ ارْحَمُوْا أهْلَ الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ أهْلُ السّمَاءِ

Al-Hafizh al-Iraqi menuliskan: “Diambil dalil dari riwayat hadits yang menyebutkan “Ahl as-Sama’” (hadits kedua di atas) bahwa yang dimaksud dengan hadits pertama (yang menyebutkan “Man Fi as-Sama’”) adalah para Malaikat” (Amali al-Iraqi, h. 77).

Apa yang dilakukan oleh al-Hafzih al-Iraqi ini adalah sebaik-baiknya metode dalam memahami teks; yaitu menafsirkan sebuh teks yang datang dalam syari’at (warid) dengan teks lainnya yang juga warid, inilah yang disebut Tafsir al-Warib Bi al-Warid, atau dalam istilah lain disebut at-Tafsir Bi al-Ma-tsur. Karena itu al-Hafizh al-Iraqi sendiri berkata dalam Alfiah-nya:

وَخَيْرُ مَا فَسَّرْتَهُ بالوَارِدِ كَالدُّخِّ بِالدُّخَانِ لاِبْنِ صَائِدِ

“Sebaik-baik cara engkau menafsirkan teks yang warid adalah dengan menafsirkannya dengan teks yang warid pula, seperti penafsiran kata al-Dukh dengan makna al-Dukhan, sebagaimana telah dinyatakan oleh Ibn Sha’id”.

Dengan demikian riwayat hadits ke dua ini menafsirkan makna firman Allah QS. al-Mulk: 16 tersebut di atas. Maka makna “yang ada di langit (Man Fi as-Sama’)” adalah para Malaikat, karena para Malaikat memiliki kekuasaan untuk menggulung bumi terhadap orang-orang musyrik seperti yang dimaksud oleh ayat tersebut. Artinya, jika para Malaikat tersebut diperintah oleh Allah untuk melakukan hal itu maka pastilah mereka akan melakukannya. Demikian pula dalam pengertian ayat seterusnya; ”Am Amintum Man Fi as-Sama…” (QS. al-Mulk: 17), yang dimaksud ayat ini adalah para Malaikat Allah. Artinya, bahwa para Malaikat yang berada di langit tersebut memiliki kekuasaan untuk mengirimkan angin keras yang dapat menghancurkan orang-orang musyrik.

Demikian pula dengan sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, bahwa Rasulullah bersabda:

وَالّذِيْ نَفْسِي بيَدِه مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأتَهُ إلَى فِرَاشِهَا فَتأبَى عَلَيْهِ إلاّ كَانَ الّذِيْ فِي السّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتّى يَرْضَى عَنْهَا (رواه مسلم)

“Demi Allah yang jiwaku berada di dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang laki-laki memanggil isterinya ke tempat tidurnya –untuk melakukan hubungan badan– kemudian perempuan tersebut enggan menjawabnya, kecuali bahwa ”yang ada di langit” murka kepadanya hingga suaminya tersebut meridlainya” (HR. Muslim).

Yang dimaksud dengan “Yang ada di langit” dalam hadits ini adalah Malaikat Allah.

Penafsiran ini sesuai dengan riwayat hadits shahih lainnya yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban dan lainnya, di mana hadits ke dua ini lebih masyhur daripada hadits di atas, yaitu hadits dengan redaksi: ”La’anatha al-Mala-ikah Hatta Tushbiha…”, dalam hadits ini dengan jelas disebutkan bahwa perempuan tersebut dilaknat oleh para Malaikat hingga datang subuh (Lihat Shahih Muslim, Kitab al-Nikah, Bab tentang keharaman menolak seorang istri dari keinginan suami. Lihat pula Tartib Shahih Ibn Hibban, j. 6, h. 187, Kitab al-Nikah, Bab hubungan suami istri).

Sedikitpun jangan pernah anda berkeyakinan bahwa Allah bertempat di langit, atau bertempat di atas arsy, seperti keyakinan kaum Wahhabiyyah. Yang benar “ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH”.
read more
Design by Faham Wahabi Visit Original Post Ahlus Sunnah Wal Jama'ah