Wahabi Tak Berkutik

Wahabi Tak Berkutik

Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulam (PCNU) Kota Balikpapan, Sabtu (17/12/2011) melantik pengurus ranting NU se-Kota Balikpapan, bertempat di Auditorium PT. Kilang Mandiri. Sehingga saat ini PCNU Balikpapan memiliki 5 MWC dan 27 Ranting.
Pelantikan yang dikemas dengan seminar tentang internalisasi Ahlussunnah Wal Jama’ah itu diikuti oleh 300 orang pengurus NU se-Balikpapan, mulai dari tingkat cabang hingga tingkat ranting.
Pada kesempatan itu, hadir sebagai pembicara Ustadz Muhammad Idrus Ramli, salah satu anggota Tim Kaderisasi ASWAJA PWNU Jawa Timur. Dalam seminar tersebut, Ustadz Idrus Ramli memaparkan tentang makna dan hakikat Ahlussunnah Wal Jama’ah berdasarkan al-Qur’an, hadits dan pemahaman para ulama yang mu’tabar.
Kegiatan ini sebagai salah satu langkah untuk membendung gerakan Wahabisasi yang semakin marak di Kota Balikpapan. Selama ini Balikpapan pusat gerakan aliran Wahabi. Dengan demikian, dibawah kepemimpinan KH. Abbas Alfas, PCNU Kota Balikpapan melakukan langkah-langkah strategis. Terutama penataan organisasi yang selama ini vakum.
Untuk memberikan pemantapan terhadap warga Nahdliyyin di Balikpapan, PCNU juga menggelar dialog terbuka antara Ustadz Muhammad Idrus Ramli dengan Ustadz Adzro’I Abdusysyukur seorang tokoh Wahabi. Dialog yang dikemas dalam acara bedah buku “Kiai NU atau Wahabi Yang Sesat Tanpa Sedar? Jawaban Terhadap Buku-Buku Mahrus Ali”, yang ditulis oleh Ustadz Muhammad Idrus Ramli bersama Habib Muhammad Syafiq Al-Idrus, itu digelar di Masjid Agung At-Taqwa, Balikpapan dengan diikuti oleh sekitar 1000 orang lebih.
Selama ini Ustadz Adzro’i dalam ceramahnya di berbagai tempat dan melalui radio tidak pernah berhenti membid’ahkan dan mensyirikkan warga nahdliyyin yang melakukan istighatsah dan tawassul. Tak ayal, warga nahdliyyin Balikpapan sangat menunggu kehadirannya dalam acara dialog tersebut. Sehingga ketika Ustadz Adzro’i diketahui kehadirannya, suasana menjadi tegang. Para peserta menunggu apa yang akan dibicarakan oleh kedua pembicara berbeda aliran itu.
Ustadz Idrus Ramli diberi waktu untuk mengawali dialog dengan memaparkan hakikat istighatsah dan tawassul beserta dalil-dalilnya dari hadits-hadits shahih dan amaliah para sahabat. Usai Ustadz Idrus, moderator memberi kesempatan dan meminta Ustadz Adzro’i untuk memberikan tanggapannya.
Namun, jawaban Adzro’i ternyata tidak memuaskan. Ia justru mengaku tidak memusyrikkan orang yang melakukan istighatsah dan tawassul, karena dasarnya sangat kuat sebagaiman dipaparkan oleh Ustadz Idrus di awal. Jawaban tersebut membuat para peserta yang hadir tertawa dan bersorak sorai, karena selama ini memang warga Balikpapan sering mendengar sendiri pernyataan Adzro’i yang memusyrikkan istighatsah. Tetapi dalam dialog tersebut, Adzro’i justru tidak mengakuinya.
Kemudian moderator meminta tanggapan Adzro’i tentang ziarah umat islam ke makam para auliya’, apakah syirik atau tidak. Ternyata Adzro’i menjawab secara diplomatis, bahwa ziarah kubur dapat mengingatkan kita pada kematian, sehingga dibolehkan. Akhirnya Ustadz Idrus Ramli memaparkan ziarah kubur dalam berbagai aspeknya beserta dalil-dalilnya. Setelah Ustadz Idrus memaparkan hal ini secara detail beserta dalil-dalilnya, Ustadz Adzro’i segera meninggalkan acara dan berpamitan tidak bisa melanjutkan dialog dengan alasan ada acara lain di luar.
Melihat ulah Ustadz Adzro’i yang kabur melarikan diri setelah dirinya tidak berkutik itu, para hadirin semuanya tertawa. Selanjutnya acara dialog dilanjutkan tanpa kehadiran pembanding dari pihak Wahabi hingga selesai pukul 13.00.
(Disadur dari Majalah AULA Edisi Januari 2012, Dapatkan Majalahnya di toko / kios buku dan agen Majalah terdekat di kota Anda)

28 komentar:

Zainal Arifin mengatakan...

Masya allah, memang itu menunjukkan bahwa ulama dari wahabi tersebut tidak bisa melawan dalil yang qoth'i kebenarannya. Semoga acara yang seperti ini bisa diagendakn lebih banyak lagi, terutama di kampus2 besar ternama, di mana aliran2 lain banyak bergerak secara bawah tangan.

nizar andika mengatakan...

mengingat kematian dan mendoakan org mati di kuburan itu
berbeda lho

blog berkutik mengatakan...

menurut saya, wahabi adalah sunni, sunni adalah islam. Sesama islam hendaklah saling nasehat-menasehati berdasarkan hikmah. yang dimaksud hikmah adalah ilmu, bukan emosi belaka. Kalau menengok cerita di atas, mirip perawan di sarang penyamun. Salah dikit bisa berabe, dikeroyok masa. Kalau diskusi iilmiah hendaknya ditempat terbuka dan netral, bukan main kerayok macam itu. Harus ada pihak keamanan. Wahabi sendiri adalah ahlusunnah, sebutan wahabi muncul dikalangan penjajah untuk memecah islam. Wahabi mengikuti Quran dan sunnah sesuai pemahaman sahabat. Bukan pemahaman kita-kita.
Dikampung saya, banyak yg ahlusunnah, pengikut imam safi'i tetapi mereka tidak tahu sama sekali imam safi'i kecuali hanya sedikit. Kalau ada yang mengamalkan pemahaman Imam safi'i, langsung kena sebutan darul hadist atau LDII atau juga wahabi.
Sementara pengikut wahabi, begitu cintanya mereka kepada imam safi'i dan juga imam yang lain. Mereka pahami kitab Al Umm karya imam safi'i. Sementara yang mengaku ahlusunnah sendiri, belum pernah baca kitab itu.. bahkan kalau disebutkan sikap dan pemahaman imam safi'i.. mereka tertegun, gak percaya..Dianggapnya wahabi tidak amanah. Lalu... manakah sebenarnya ahlusunnah?
Apakah ajlusunnah itu yang menganggap kawan seaqidah dari syiah atau juga kawan islam liberal? sementara ia mengnggap wahabi sebagai musuh ahlusunnah? Apakah ahlusunnah menganggap ibnu tamiayah, ibnu qoyim, dan ulama lain yang berpemahaman wahabi yang pada hakikatnya berpemahaman ahlusunnah dianggap sebagai orang2 sesat? apakah orang2 yang belajar kitab al umm, tafsir ibnukatsir, dan kitab ulama2 dianggapnya sesat?
Sementara orang yang belajar ilmu kebal, kesaktian, pelet, di pondok2(yang katanya ahlusunnah) penghasil dukun atau kyai dianggapnya ahlusunnah... lalu dimanakah pemahaman ahlusunnahnya saudaraku? tunjukkan padaku!

ISLAMKU mengatakan...

Bagi orang yang telah mengkaji antara WAHABI NU dan MUHAMMADIAH, pasti akan mengatakan "Ketiga-tiganya tidak ada yang salah dan sama-sama beragama Islam (mengerjakan Sholat, puasa, zakat dll). seharusnya yang meng-kritik satu sama lain itu haruslah di dahului intrispeksi terhadap dirinya sendiri bukan saling mengecam sesama Islam. dan apabila ada ikhtilafiah antar madzhab maka seharusnya dikembalikan pada induk rujukannya (Al-Quran Al-Hadist). karena dalam Al-Qur'an telah ditegaskan yang arinya: "Siapa saja tidak menghukumi dengan apa yang telah di wahyukan Alloh, maka dia termasuk orang kafir/fasik/munafiq"

HATI-HATILAH..!!

ridwan hakim mengatakan...

Hanya ingin mengatakan, bukan kabur tapi menghindari debat kusir. Tadi kan bilang para penonton bersorak. Keputusan yang tepat memang nasihat para ulama seperti itu, menghindar lebih baik seperti yg dilakukan imam syafi`i.

gilman mengatakan...

kita harus bisa membdakan mana ahlussunnah/salafi sejati dan ahlussunnah/salafi gadungan,kita dapat membedakan dari prinsip2 AKIDAHNYA. Akidah ahlussunnah wal jama'ah sejati, meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat, Alah bukan i atas bukan bersemayam di 'arsy.Karena berseayam adalah sifat makhluk, smentara Allah berbeda dengan makhuknya,LAISA KAMITSLIHI SYAI'UN.Jadi jelas bagi para kaum terpelajar dapat dengan mudah mengetahui mana yg benar mana yg setan aku2

hery kawantoro mengatakan...

wah seru nih....
yang saya pahamkan dari tulisan di atas beserta tulisan tulisan lain adalah berupaya mengklarifikasi sikap,prilaku dan pola pikir serta keyakinan dalam memahami islam dan hukum2nya. kekeliru dari kaum wahabi ini memang perlu dipublikasi dengan niat menyelamatkan umat islam baik yg muda maupun tua, terutama umat islam yg awam untuk tidak ikut terjerumus dalam kesesatan (taklik buta) yg berujung perbuatan brutal dan sembrono.
Bukan hanya umat islam yg diselamatkan, tetapi umat manusia secara keseluruhan. Karena islam yg benar adalah yg membawa ketenangan, ketentraman dan menuntun semua manusia untuk memperoleh kebhagiaan....wassalam

Pantai Lombang mengatakan...

muhammad idrus ramli memang fahamnya gak benar pak. abul hasan al asy'ari kan sdh tobat dari aqidah yang di ellu2kan idrus ramli. kenapa si idrus itu kok tidak menela'ah lg faham abul hasan asy'ari yg terakhir.

Deva_Ajib_A mengatakan...

la wong durung isa apa-apa kok wis wani ngafirne wong liya ? maku deh looooo...

qushay al idrus mengatakan...

سم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين, مكون الأكوان, مدبر الأزمان, الموجود أزلا وأبدا بلاكيف ولاجهة ولامكان , والصلاة والسلام على محمد سيد الأنبياء والمرسلين, وعلى ءاله الطاهرين وصحابته الطيبين, اما بعد

Selama ini kaum SAWAH (Salafy Wahabi) cuma bisa meributkan dan mempermasalahkan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh sebagian besar Umat Muslimin Ahlus Sunnah Waljamaah di seluruh dunia. Perdebatan ini sampai menimbulkan pertentangan dikarenakan kaum SAWAH yang tetap ngeyel dengan pendiriannya untuk Membid’ahkan dan Menganggap Sesat orang yang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Na’udzubillahi Min Dzalik.

Tak dipungkiri lagi, asal pemahaman Wahabi (yang kini terkenal dengan faham Salafy) tak bisa lepas dari Tokoh siapa lagi kalau bukan Muhammad Ibn Abdul Wahhab An-Najedi. Faham Wahabi yang “berkembang biak” di Saudi kini juga telah menjalar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Mereka bersemangat dengan slogan-nya, Menegakkan Al-Qur’an dan Sunnah, Kembali ke Manhaj Salaf, Tinggalkan TBC (Takhayul Bid’ah Khurafat).

Tapi tahukah anda? Para Ulama Wahabi Saudi juga melakukan Bid’ah yang sungguh-sungguh nyata Bid’ah! Mereka tak merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW tapi merayakan Pekan Muhammad Ibn Abdul Wahhab

ALlah yahfadz

Herman Sujianto mengatakan...

Saya tidak salut dgn judul tulisan ini. Coba antum pelajari tentang syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Aki Adnani mengatakan...

Aku hanya berpikir sederhana, bahwa yang namanya beda pandangan (ikhtitilaf) itu hal biasa terjadi. Jauh-jauh hari Alquran telah menyebutkannya. Ihwal ingin tahu siapa yang benar siapa yang salah, kalau tidak mungkin terjawab sekarang, waktu masih pada hidup - karena masing-masing merasa paling benar alias masing-masing ngotot - tunggu saja hari kiamat. Mau mengikuti bagaimana beragama pada zaman Rasulullah, gak mungkin lagi. Paling tidak, yang aku yakin bahwa pada zaman Rasulullah, yang namanya Ahlu Sunnah versi salafi, muta-akhirin, Mu'tazilah, Khawarij, Wahabiyah, NU, Muhammadiyah dan setumpuk aliran yg sekarang ada bisa kita lihat, pasti tidak atau belum ada. Agama yg kita peroleh adalah dari tumpukan Kitab-kitab yg susah kita hitung jumlahnya, belum lagi kitab-kitab yang di hanyutkan di sungai Dajlah pada zaman Hulagu Khan dihitung. Sunnah wal Jamaah ataupun Wahabi tujuannya sama,agar di dua dimensi kehidupan (fiddun-ya wal akhirah) berada dalam kebaikan (hasanatan)dan jauh dari sengatan api neraka. Kalaupun ada pandangan yang cocok sesuai latar belakang keilmuan/pandanganku apakah di Sunnah Waljamaah ataupun di pihak Wahabi, itulah yg kuanggap mencapai ridhaNya. Aku setuju dengan Wahabi, karena salah satu gagasannya membasmi. Karena sejak dulu aku lebih dekat dg hal-hal yg realistis, masuk akal dan tidak doyan kepada khayal atau kemusyrikan. Kalaupun di pihak Sunnah Waljamaah ada hal-hal yg bersifat mistis, sepanjang Alquran memberikan gagasannya - seperti Tahajud,du'a - tak akan kutinggalkan. Nahdiyin menuduh Wahabi sesat, boleh jadi Wahabipun demikian pula (Kalau saja Muhammad bin Abdul Wahhab atau bin Bazz tahu bahwa ada NU di Indonesia). Nyatanya, tidak Muhammadiah tidak NU, tidak pula Persis, bahkan Eyang Subur sekalipun kalau mau hajji tetap saja harus ke Makkah, negeri Wahabi itu, yg terawehnya 23 rakaat dan fatihahnya tanpa basmalah. Jadi kalau memang benar-benar dalam rangka Lillahi Ta'ala sih, gak usah salih menyesatkan atau mengkafirkan, kata lain dari bahwa hanya "aku"lah yg benar, yg lainnya salah atau sesat. Berangkatlah dari kehidupan sejarah, dimana Islam ini sudah berumur 1380 tahun semenjak Rasulullha wafat. Jadi agama telah dibumbui dengan berbagai hal yg bolehjdi tidak diperlukan dalam beragama Sebagai analog dari semangat Revolusi 1945 dengan kenyataan kehidupan bangsa kita hingga 2013 (baru 68 tahun) plus sekian tahun ke depan. Kalau masyarakat umum (bukan 'awwam)sih tenang-tenang saja, yg bikin rame itu tokoh-tokohnya dlm rangka rekrutmen anggota atau jama'ahnya.

Aki Adnani mengatakan...

Aku hanya berpikir sederhana, bahwa yang namanya beda pandangan (ikhtitilaf) itu hal biasa terjadi. Jauh-jauh hari Alquran telah menyebutkannya. Ihwal ingin tahu siapa yang benar siapa yang salah, kalau tidak mungkin terjawab sekarang, waktu masih pada hidup - karena masing-masing merasa paling benar alias masing-masing ngotot - tunggu saja hari kiamat. Mau mengikuti bagaimana beragama pada zaman Rasulullah, gak mungkin lagi, kita tidak mungkin sezaman lagi dengan beliau, sehingga mudah mendapat kejelasan, tanpa melewati sliweran kitab-kitab dan tokoh-tokohnya. Paling tidak, yang aku yakin bahwa pada zaman Rasulullah, yang namanya Ahlu Sunnah versi salafi, muta-akhirin, Mu'tazilah, Khawarij, Wahabiyah, NU, Muhammadiyah dan setumpuk aliran yg sekarang ada bisa kita lihat, pasti tidak atau belum ada. Agama yg kita peroleh adalah bermula dari tumpukan Kitab-kitab yg susah kita hitung jumlahnya, belum lagi kitab-kitab yang di hanyutkan di sungai Dajlah pada zaman Hulagu Khan dihitung. Sunnah wal Jamaah ataupun Wahabi tujuannya sama,agar di dua dimensi kehidupan (fiddun-ya wal akhirah) berada dalam kebaikan (hasanatan) dan jauh dari sengatan api neraka. Kalaupun ada pandangan yang cocok sesuai latar belakang keilmuan/pandanganku apakah di Sunnah Waljamaah ataupun di pihak Wahabi, itulah yg kuanggap mencapai ridhaNya. Aku setuju dengan Wahabi, karena salah satu gagasannya membasmi kemusyrikan. Karena sejak dulu aku lebih dekat dg hal-hal yg realistis, masuk akal dan tidak doyan kepada khayal atau kemusyrikan. Kalaupun di pihak Sunnah Waljamaah ada hal-hal yg bersifat mistis, sepanjang Alquran memberikan gagasannya - seperti Tahajud,du'a - tak akan kutinggalkan. Nahdiyin menuduh Wahabi sesat, boleh jadi Wahabipun demikian pula (Kalau saja Muhammad bin Abdul Wahhab atau bin Bazz tahu bahwa ada NU di Indonesia). Nyatanya, tidak Muhammadiah tidak NU, tidak pula Persis, bahkan Eyang Subur sekalipun kalau mau hajji tetap saja harus ke Makkah, negeri Wahabi itu, yg terawehnya 23 rakaat dan fatihahnya tanpa basmalah. Jadi kalau memang benar-benar dalam rangka Lillahi Ta'ala sih, gak usah saling menyesatkan atau mengkafirkan, kata lain dari bahwa hanya "aku"lah yg benar, yg lainnya salah atau sesat. Berangkatlah dari kehidupan sejarah, dimana Islam ini sudah berumur 1380 tahun Masehi atau 1423 tahun Hijriah, semenjak Rasulullha wafat. Jadi agama telah dibumbui dengan berbagai hal yg bolehjadi tidak diperlukan. Sebagai analog dari semangat Revolusi 1945 dengan kenyataan kehidupan bangsa kita hingga 2013 (baru 68 tahun) plus sekian tahun ke depan. Kalau masyarakat umum (bukan 'awwam) sih tenang-tenang saja, yg bikin rame itu tokoh-tokohnya dlm rangka rekrutmen anggota atau jama'ahnya.

Anonim mengatakan...

tapi kenyataan dilapangan penganut wahaby slalu membid'ahkan org yg tak spaham dgnnya, krn sring mengabaikan dalil2 yg drujuk org lain

Anonim mengatakan...

Saya orang Indonesia asli saya bukan pengikut Wahabi atau Salafi tetapi saya mencoba mengkaji dan belajar Islam dengan benar tidak hanya sekedar turunan. Insya Allah kalau kita beragama dengan benar dengan selalu belajar, mencari dan menambah ilmu tidak akan takut apa itu Wahabi Salafi atau faham lain yang dibilang keras dsb karena kita sudah punya dasar pijakan ilmu. Orang yang takut bahkan gerah dengan hadirnya salafi atau yang dinisbatkan wahabi dsb adalah orang yang beragamanya tanpa ilmu alias ngikut2 aja taqlit buta dan berada di zona nyaman dengan kemudahan meringankan hal-hal tanpa dasar syar'i lebih cenderung mengkultuskan melanggengkan adat yang cenderung juga kepada "kesesatan". Tidak usah menunggu wahabi datang kalau kita cermati fatwa-fatwa organisasi keagamaan Islam yang Indonesia asli seperti Persatuan Islam atau Muhammadiyah tidak ada peringatan maulid nabi bahkan tidak sedikit ulamaknya yang menyatakan itu bid'ah, macam didaerah tempat saya tinggal kalau sudah maulid harus makan besar selamatan walaupun dengan berhutang dan suguhannya harus istimewa biar bergengsi dan tidak sedikit para pemudanya pawai tabot dengan dalih peringatan maulid padahal dipinggangnya terselib botol minuman keras banyak mudaratnya dan sama sekali tidak mencerminkan islam. Satu lagi selamatan di kuburan dengan membakar kemenyan dengan mengatasnamakan kuburan wali orang soleh pingin ngalap berkah baca yasin padahal dirumahnya saja tidak pernah baca al qu'an yang insya allah kalau dia lakukan dirumah dijamin Allah dapat berkah. Apakah tuduhan itu semua yang ditakutkan sehingga harus memfitnah juga kalau wahabi salafi sesat. Masuklah kedalam Islam secara kaffah, biasakanlah dengan kebenaran jangan membenarkan kebiasaan. wallahu'alam.

gabriel mutakhir mengatakan...

Mau di pelajari apanya bung,yg kami tunggu adalah kejadian nyata yang di sampaikan oleh baginda rosul,nabi muhammad SAW.tentang penghancur islam dari najd.memprihatinkan bila hadist itu di hilangkan.....

gabriel mutakhir mengatakan...

Mau di pelajari apanya bung,yg kami tunggu adalah kejadian nyata yang di sampaikan oleh baginda rosul,nabi muhammad SAW.tentang penghancur islam dari najd.memprihatinkan bila hadist itu di hilangkan.....

gabriel mutakhir mengatakan...

Apanya lagi yg mau di baca bung---umat islam termasuk anda pasti menunggu apa yg di sabdakan oleh nabi kita,nabi muhammad SAW tentang penghancur islam dari najd.....atau hadist itu sudah di musnahkan bersama sejarah islam yg kini sudah hampir tiada di negri yg mengawali islam yg di bawa baginda nabi.....

gabriel mutakhir mengatakan...

Mau di pelajari apanya bung,yg kami tunggu adalah kejadian nyata yang di sampaikan oleh baginda rosul,nabi muhammad SAW.tentang penghancur islam dari najd.memprihatinkan bila hadist itu di hilangkan.....

al rustam mengatakan...

sombong itu menolak kebenaran dan menghina orang lain.

reza mengatakan...

ahlan wasahlan bro...informasi pendahuluan...dulu sy menganut aliran Wahabi/salafy yg sangat taat, karena menurut sy faham wahabi/salafy sangat nyunnah eh..ternyata belakangan kehadiran "ustadz-ustadz" yang rata-rta bergelar LC, banyak membuat masalah di tempat saya, jamaah jadi tepecah belah, pengurus masjid yg semula rukun berubah saling "MENYERANG"karena satu menganggap amalah ini sunnah, yang lain bilang ini bid'ah, perpecahan tdk bisa dihindari akibat ulah ustadz salafy

reza mengatakan...

ahlan wasahlan bro...informasi pendahuluan...dulu sy menganut aliran Wahabi/salafy yg sangat taat, karena menurut sy faham wahabi/salafy sangat nyunnah eh..ternyata belakangan kehadiran "ustadz-ustadz" yang rata-rta bergelar LC, banyak membuat masalah di tempat saya, jamaah jadi tepecah belah, pengurus masjid yg semula rukun berubah saling "MENYERANG"karena satu menganggap amalah ini sunnah, yang lain bilang ini bid'ah, perpecahan tdk bisa dihindari akibat ulah ustadz salafy

Muhammad Ali Husayn mengatakan...

Saling menasehati boleh
Apalagi sesama muslim
Tapi wahabilah yang selalu cari masalah

Hamba Allah mengatakan...

Kasihan nih admin, ngaku ahlusunnah kelakuan ahlubidaaahhh... hahahahahahahaha.... dalil lemah dijadikan hujjah, dalil shahih, iiihhhh... lama-lama tanah kuburan dimakan biar kuat, hahahahhaaahahahah... hahahahahha... bahlul

ABDUL HAKIM mengatakan...

G smua yg kuning berkilau itu emas..Allah memberi kita akal utk berfikir jernih agar bisa memilih yg mana emas yg mana bukan...Nabi mengajarkan syariat islam dgn santun bkn dgn cara brutal seperti kaum al.khobist wahabi laknatullah alaihi...islam itu rahmatamn lil alamin bkn laknatan lil alamin.d jaman Nabi org yg minum khomer d cambuk sbnyak 40x tp pd jaman saidina umar di cambuk sbnyak 80x apa dgn bgtu saidina umar sudah melakukan bidah???tentu.y tdk krna saidina ali sendiri mengakui semua keputusan.tp beliu lbh suka dgn yg 40x yg d lakukan Nabi..jd buat kaum yg ngaku paling merasa paling alim sendiri berhati hati lah dlm menghukumi seseorang..ilmu antum g sebanding dgn imam syafii..hapalan hadist antum g sebanding dgn.imam ahmad bin hanbal...

Anonim mengatakan...

Cukup ini:
http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/553-idrus-ramli-nekat-berdusta-demi-menuduh-firanda-berdusta

wahabi itu sesat mengatakan...

Yg banyak menolak artikel ini adalah kelompok wahabi jahil bin bahlul.

Anonim mengatakan...

Seharusnya sesama muslim itu harus saling menasehati bukan saling berdebat

Posting Komentar

Mohon jangan berkomentar memakai kata SARA,Kotor ataupun SPAM.

Mohon Jangan Menggunakan ANONYM,apabila anda tidak mengikuti peraturan ini saya akan menghapus komentar anda tanpa membacanya terlebih dahulu.
Pilihlah Name/URL lalu isi dengan nama anda (URL bisa anda kosongkan atau isi dengan URL http://wahabivssunni.blogspot.com/ saja apabila anda tidak memiliki blog atau website.
Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan berkomentar,wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Design by Faham Wahabi Visit Original Post Ahlus Sunnah Wal Jama'ah